Beberapa tahun terakhir, kafe sudah menjadi ârumah keduaâ bagi para remaja dan kalangan Gen Z. Dari pagi hingga pagi lagi, banyak dari mereka melakukan aktivitas seperti mengerjakan tugas, rapat, atau hanya sekedar nongki cantik saja. Disetiap sudut wilayah DIY sudah puluhan hingga ratusan kafe yang berdiri dengan konsep menariknya masing-masing. Menurut data Komunitas Kopi Indonesia, kedai kopi di wilayah DIY tersebar luas dengan jumlah sekitar 3.000 kedai. (Rijal, 2024) Kawasan seperti Condongcatur dan Caturtunggal menjadi pusat persebaran kafe yang cukup banyak. Mengingat daerah tersebut dipenuhi dengan mahasiswa dan pekerja muda. Maka dari itu, tren ângopiâ dan âjajanâ di kalangan Gen Z telah merubah Yogyakarta menjadi surganya para pecinta kuliner.
SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Yogyakarta â Inovasi dalam pengembangan media pembelajaran menjadi salah satu upaya penting dalam menciptakan proses belajar yang efektif, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman. Menyadari hal tersebut, sekelompok mahasiswa berhasil mengembangkan sebuah media pembelajaran kreatif berbentuk board game edukatif bernama Snake ân Facts, yang mengangkat tema Pasar Beringharjo sebagai ikon budaya dan pusat aktivitas ekonomi tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta.

 YOGYAKARTA â Empat mahasiswa Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan Universitas Gadjah Mada, yakni Sulthon Faizi, Muhammad Rizal Rivaldy, Ardilla Avi Prasetya, dan Wulan Ely Khasanah, menyelenggarakan kegiatan pembelajaran lapangan bertajuk Beringharjo Education Trip sebagai bagian dari mata kuliah Praktikum Bisnis Digital yang dibimbing oleh Fani Pramuditya, S.E., M.B.A. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 6 Desember 2025, dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, dan diikuti oleh kurang lebih 13 peserta. Pasar Beringharjo menjadi lokasi pelaksanaan karena merupakan pusat perdagangan batik serta ruang budaya yang menjadi denyut ekonomi masyarakat Yogyakarta.
YOGYAKARTA â Empat mahasiswa Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan Universitas Gadjah Mada, yakni Sulthon Faizi, Muhammad Rizal Rivaldy, Ardilla Avi Prasetya, dan Wulan Ely Khasanah, menyelenggarakan kegiatan pembelajaran lapangan bertajuk Beringharjo Education Trip sebagai bagian dari mata kuliah Praktikum Bisnis Digital yang dibimbing oleh Fani Pramuditya, S.E., M.B.A. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 6 Desember 2025, dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, dan diikuti oleh kurang lebih 13 peserta. Pasar Beringharjo menjadi lokasi pelaksanaan karena merupakan pusat perdagangan batik serta ruang budaya yang menjadi denyut ekonomi masyarakat Yogyakarta.
YOGYAKARTA â Pasar Beringharjo selalu punya cara untuk memikat siapa saja untuk melangkah ke dalamnya. Di balik hiruk-pikuk aktivitas tawar-menawar di lorong-lorongnya, tersimpan ragam kuliner khas yang belum banyak disorot pengunjung. Pada tanggal 6 Desember 2025, tim PASARASA melakukan sebuah perjalanan bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, melainkan untuk mengungkap cerita dibalik hidangan-hidangan legendaris yang tersembunyi di sudut-sudut Pasar Beringharjo.
Program pemberdayaan Usaha Kecil dan Mikro (UKM) dinilai menjadi salah satu pilar strategis dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam pengentasan kemiskinan (SDG 1), ketahanan pangan (SDG 2), pertumbuhan ekonomi inklusif (SDG 8), serta pengurangan ketimpangan (SDG 10). Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat oleh Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) melalui program âPemberdayaan UKM untuk Peningkatan Perekonomian Desa Sendangsari, Pengasih, Kulon Progoâ.
Kulon Progo, 2025 â Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Akuntansi Sektor Publik, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, melaksanakan kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Pengembangan Produk Koperasi Merah Putih di Kalurahan Kaliagung, Sentolo, Kulon Progo. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas usaha dan tata kelola koperasi produksi berbasis potensi lokal serta mendukung pencapaian SDGâs 1 (Tanpa Kemiskinan), SDGâs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan SDGâs 16 (Kelembagaan yang Tangguh).
Kulon Progo, 2025 â Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Akuntansi Sektor Publik, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Pengembangan Produk Koperasi Merah Putih di Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas kelembagaan dan penguatan usaha koperasi produksi di tingkat desa, sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGâs), khususnya SDG 1, SDG 8, dan SDG 16.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan kebutuhan akan inovasi berkelanjutan, kemampuan kewirausahaan tidak lagi cukup bila hanya berfokus pada keuntungan semata. Dunia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya kreatif dan berani mengambil peluang, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan dan kepedulian sosial yang kuat. Inilah yang dikenal sebagai sustainable entrepreneurshipâkewirausahaan yang memadukan nilai ekonomi, sosial, dan ekologis untuk menciptakan dampak positif jangka panjang. Menanamkan nilai ini sejak usia dini merupakan langkah strategis dalam mendukung berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Kewirausahaan didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi peluang, mengelola risiko, dan menciptakan solusi bisnis yang inovatif. Dalam konteks pembangunan nasional yang berkelanjutan, menumbuhkan jiwa wirausaha sejak usia dini bukan lagi sekadar inisiatif pendidikan, melainkan sebuah fondasi krusial dan investasi strategis. Penanaman nilai ini sejak awal mempersiapkan generasi muda untuk menjadi penggerak perubahan yang mandiri dan produktif, yang pada gilirannya akan mendorong penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing ekonomi. Upaya ini sejalan dengan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) yang menekankan pentingnya pembelajaran inklusif dan keterampilan hidup sejak dini.




