SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Dalam dua dekade terakhir, perkembangan layanan internet berbasis kabel optik di Indonesia mengalami lonjakan pesat. Di saat yang sama, banyak daerah termasuk Kabupaten Cilacap memanfaatkan penggunaan ruang publik untuk menanam atau memasang kabel dan hal tersebut memunculkan persoalan bagi pemerintah daerah. Tanpa peraturan yang jelas, pemasangan kabel berpotensi akan mengganggu tata ruang, menurunkan estetika kota, membahayakan keselamatan publik, bahkan hingga menyulitkan pengawasan pemerintah daerah. Untuk memastikan semua instalasi terdata dan dikelola secara tertib, pemerintah mulai menertibkan penggunaan ruang publik dengan cara menetapkan retribusi terhadap pemanfaatan fasilitas oleh penyelenggara jaringan, khususnya pada instalasi kabel optik. Kebijakan ini diberlakukan sekaligus sebagai upaya memaksimalkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pemanfaatan infrastruktur oleh sektor swasta.
Oleh : Dyah Karuna Prajna Sari¹, Falihatul Fa-Iqoh², Radin Akmal Indrajaya³, Syifa Rizkia De Putri Randi⁴
1234Program Studi Akuntansi Sektor Publik, Departemen Ekonomika dan Bisnis,
Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada
Beberapa tahun terakhir, kafe sudah menjadi “rumah kedua” bagi para remaja dan kalangan Gen Z. Dari pagi hingga pagi lagi, banyak dari mereka melakukan aktivitas seperti mengerjakan tugas, rapat, atau hanya sekedar nongki cantik saja. Disetiap sudut wilayah DIY sudah puluhan hingga ratusan kafe yang berdiri dengan konsep menariknya masing-masing. Menurut data Komunitas Kopi Indonesia, kedai kopi di wilayah DIY tersebar luas dengan jumlah sekitar 3.000 kedai. (Rijal, 2024) Kawasan seperti Condongcatur dan Caturtunggal menjadi pusat persebaran kafe yang cukup banyak. Mengingat daerah tersebut dipenuhi dengan mahasiswa dan pekerja muda. Maka dari itu, tren “ngopi” dan “jajan” di kalangan Gen Z telah merubah Yogyakarta menjadi surganya para pecinta kuliner.

Yogyakarta — Inovasi dalam pengembangan media pembelajaran menjadi salah satu upaya penting dalam menciptakan proses belajar yang efektif, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman. Menyadari hal tersebut, sekelompok mahasiswa berhasil mengembangkan sebuah media pembelajaran kreatif berbentuk board game edukatif bernama Snake ‘n Facts, yang mengangkat tema Pasar Beringharjo sebagai ikon budaya dan pusat aktivitas ekonomi tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta.

YOGYAKARTA – Empat mahasiswa Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan Universitas Gadjah Mada, yakni Sulthon Faizi, Muhammad Rizal Rivaldy, Ardilla Avi Prasetya, dan Wulan Ely Khasanah, menyelenggarakan kegiatan pembelajaran lapangan bertajuk Beringharjo Education Trip sebagai bagian dari mata kuliah Praktikum Bisnis Digital yang dibimbing oleh Fani Pramuditya, S.E., M.B.A. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 6 Desember 2025, dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, dan diikuti oleh kurang lebih 13 peserta. Pasar Beringharjo menjadi lokasi pelaksanaan karena merupakan pusat perdagangan batik serta ruang budaya yang menjadi denyut ekonomi masyarakat Yogyakarta.
YOGYAKARTA – Empat mahasiswa Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan Universitas Gadjah Mada, yakni Sulthon Faizi, Muhammad Rizal Rivaldy, Ardilla Avi Prasetya, dan Wulan Ely Khasanah, menyelenggarakan kegiatan pembelajaran lapangan bertajuk Beringharjo Education Trip sebagai bagian dari mata kuliah Praktikum Bisnis Digital yang dibimbing oleh Fani Pramuditya, S.E., M.B.A. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 6 Desember 2025, dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, dan diikuti oleh kurang lebih 13 peserta. Pasar Beringharjo menjadi lokasi pelaksanaan karena merupakan pusat perdagangan batik serta ruang budaya yang menjadi denyut ekonomi masyarakat Yogyakarta.
YOGYAKARTA – Pasar Beringharjo selalu punya cara untuk memikat siapa saja untuk melangkah ke dalamnya. Di balik hiruk-pikuk aktivitas tawar-menawar di lorong-lorongnya, tersimpan ragam kuliner khas yang belum banyak disorot pengunjung. Pada tanggal 6 Desember 2025, tim PASARASA melakukan sebuah perjalanan bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, melainkan untuk mengungkap cerita dibalik hidangan-hidangan legendaris yang tersembunyi di sudut-sudut Pasar Beringharjo.
Program pemberdayaan Usaha Kecil dan Mikro (UKM) dinilai menjadi salah satu pilar strategis dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam pengentasan kemiskinan (SDG 1), ketahanan pangan (SDG 2), pertumbuhan ekonomi inklusif (SDG 8), serta pengurangan ketimpangan (SDG 10). Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat oleh Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) melalui program “Pemberdayaan UKM untuk Peningkatan Perekonomian Desa Sendangsari, Pengasih, Kulon Progo”.



