Muhammad Aghis Asyakandari (Manajemen dan Penilaian Properti 2024), Dimas Aditiya Yudhistira Putra (Manajemen dan Penilaian Properti 2024), dan Wildan Jawahir (Manajemen dan Penilaian Properti 2024) berhasil meraih Juara 2 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional SIAGA Awards 2026 yang diselenggarakan oleh Simpul Pemberdayaan Masyarakat untuk Ketangguhan Bencana (SPMKB/UIIPEDULI) Universitas Islam Indonesia. Kompetisi yang mengangkat tema “Humanitarian Logistic for Resilience: Mewujudkan Distribusi Bantuan Kebencanaan yang Inovatif, Inklusif dan Berkelanjutan” tersebut diikuti oleh 10 tim dari 10 universitas berbeda pada babak final. Seleksi dilakukan melalui tahap full paper, presentasi final, dan tanya jawab yang dilaksanakan secara daring pada 26 Agustus 2026, sementara awarding berlangsung di Universitas Islam Indonesia pada 31 Agustus 2026.
Dalam kompetisi tersebut, tim UGM mengusulkan karya berjudul “FAIR-ROUTE: Sistem Optimasi Rute Logistik Kemanusiaan Berbasis Deprivation Cost untuk Distribusi Last-Mile Pascabencana.” Gagasan ini menawarkan sistem optimasi rute distribusi bantuan yang tidak hanya mempertimbangkan jarak, tetapi juga waktu tunggu, kebutuhan yang belum terpenuhi, tingkat kerentanan, kondisi akses, dan kapasitas kendaraan. FAIR-ROUTE dirancang sebagai sistem pendukung keputusan yang dapat melakukan penghitungan ulang rute ketika kondisi jalan maupun kebutuhan wilayah terdampak berubah. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu distribusi bantuan menjadi lebih responsif, tepat sasaran, dan mempertimbangkan kondisi penerima bantuan secara lebih menyeluruh. Dalam pengerjaannya, Aghis berfokus pada ide, konseptualisasi, dan model, Dimas pada aspek operasional, serta Wildan pada desain.
Tercapainya Juara 2 menjadi hasil yang tidak disangka bagi tim, terutama setelah menghadapi kendala teknis saat presentasi final berupa kesulitan memasuki ruang Zoom dan keterlambatan perpindahan slide. Meski demikian, persiapan yang telah dilakukan membuat tim tetap percaya diri hingga pengumuman hasil. Pengalaman tersebut juga menjadi pembelajaran bagi mereka mengenai pentingnya kesiapan teknis selain penguasaan substansi karya. Ke depan, mereka berharap FAIR-ROUTE dapat dikembangkan untuk mengoptimalkan penentuan rute sekaligus meningkatkan ketepatan dalam menentukan titik terdampak yang menjadi prioritas distribusi bantuan. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperkuat respons kemanusiaan dan mendukung distribusi bantuan yang lebih adil, adaptif, efisien, dan berkelanjutan ke depan. [Red. Muhammad Aghis]

