GUNUNGKIDUL – Siapa bilang kulit pisang hanya berakhir sebagai limbah? Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, tim Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan (PEK), Departemen Ekonomika dan Bisnis, Sekolah Vokasi UGM mengajak perempuan Desa Prima Banaran melihat kulit pisang dari sudut pandang berbeda yaitu sebagai sumber daya yang masih bisa dimanfaatkan.
Pada 3 Agustus 2026, kelompok perempuan Desa Prima Banaran mengikuti pelatihan pengolahan limbah kulit pisang menjadi Pupuk Organik Cair (POC) di Padukuhan Banaran IV, Kalurahan Banaran, Playen, Gunungkidul. Kegiatan ini menjadi bagian dari program “Pengembangan Produk Keripik Pisang Rumah Tangga sebagai Strategi Pemberdayaan Ekonomi Lokal yang Berkelanjutan di Kalurahan Banaran, Playen, Gunungkidul.”
Pelatihan dilakukan bersama Irfan Yunianto, M.Sc., Ph.D. sebagai pemateri untuk mengenalkan konsep green economy, ekonomi sirkular, hingga langkah sederhana mengolah kulit pisang menjadi POC. Melalui kegiatan ini, limbah dari produksi keripik pisang tidak lagi hanya dipandang sebagai sisa produksi, tetapi sebagai bahan yang masih memiliki nilai guna serta menciptakan ekonomi sirkular.
Dari Kebiasaan Lokal ke Ekonomi Sirkular
Menariknya, diskusi bersama peserta menunjukkan bahwa praktik pemanfaatan limbah sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Banaran. Kulit pisang selama ini telah dimanfaatkan sebagai pakan sapi, sementara beberapa peserta juga memiliki pengalaman membuat pupuk cair dari sisa makanan maupun jeroan ikan serta mengelola sampah melalui bank sampah.
Pelatihan kemudian membuka alternatif baru agar kulit pisang dapat dimanfaatkan lebih optimal melalui POC. Hasil pre-test dan post-test juga menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan.
Program pengabdian ini tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Tim juga melakukan pendampingan kelembagaan Desa Prima, pendataan kelompok untuk mendukung proses sinkronisasi dengan Data Center DP3AP2 DIY dan platform Desa Prima, serta pendampingan terkait legalitas usaha melalui pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB). Proses tersebut masih terus ditindaklanjuti bersama pihak terkait.
Perempuan Desa Prima dan Langkah Menuju SDGs
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, perempuan Desa Prima Banaran didorong untuk semakin aktif dalam pengembangan usaha sekaligus pengelolaan lingkungan di sekitarnya.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui penguatan kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi lokal, khususnya usaha keripik pisang yang dikelola kelompok perempuan Desa Prima Banaran. Penguatan usaha, pendampingan legalitas, dan pemanfaatan limbah menjadi POC diharapkan dapat membuka peluang pengembangan usaha sekaligus meningkatkan nilai guna dari kegiatan produksi yang sudah berjalan. Sementara itu, SDG 5: Kesetaraan Gender didukung melalui peningkatan peran perempuan sebagai pelaku aktif dalam kegiatan ekonomi, pengelolaan kelompok, serta pengambilan peran dalam pembangunan di tingkat desa.
Dari usaha keripik pisang hingga pemanfaatan kulitnya menjadi POC, satu proses produksi sederhana dapat menjadi pintu masuk menuju ekonomi lokal yang lebih berdaya dan berkelanjutan. [Red. Anggi]



