
YOGYAKARTA — Setiap kali harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi disesuaikan, perhatian publik hampir selalu tertuju pada inflasi. Kekhawatiran itu beralasan: energi menjadi input bagi hampir semua kegiatan ekonomi, dan studi terdahulu menemukan keterkaitan yang kuat antara konsumsi energi dan inflasi. Namun, bagi petani dan nelayan, wujud risiko inflasi yang paling nyata adalah tergerusnya daya tukar hasil panen dan tangkapan mereka—dan daya tukar itu tidak hanya bergantung pada harga BBM, tetapi juga pada jumlah BBM yang benar-benar tersalurkan.

