Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menerima kembali 8.148 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode 2 Tahun 2026 dalam upacara penerimaan yang digelar Jumat (4/9). Momen ini menandai berakhirnya masa pengabdian mahasiswa di lokasi penempatan masing-masing, yang dijalani secara luring selama 50 hari, terhitung sejak 20 Juni hingga 8 Agustus 2026.
Pada periode kali ini, para mahasiswa terbagi ke dalam 298 unit KKN-PPM yang tersebar di 32 provinsi di seluruh Indonesia, menjangkau wilayah dari perkotaan hingga pelosok desa. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan, sekaligus berkontribusi langsung dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di lokasi penempatan.
Salah satu unit KKN-PPM Periode 2 Tahun 2026, Tim Morodonorojo, ditempatkan di Desa Widoro, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tim ini mengusung tema âOptimalisasi Potensi Lokal melalui Integrasi Ekowisata dan Budaya berbasis Pendidikan, Inovasi Teknologi Tepat Guna, dan Pemberdayaan Kelembagaan untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan, Kesehatan Masyarakat, dan Perekonomian Berkelanjutan di Desa Gedompol dan Widoroâ, dengan program kerja yang mencakup sektor peternakan, pertanian, ekonomi dan pariwisata, kesehatan, hingga pendidikan.

Sesuai dengan latar belakang keilmuannya di bidang Manajemen dan Penilaian Properti, Fransiska Deiss, mahasiswa Tim Morodonorojo, berfokus pada penyusunan masterplan dan business plan pengembangan objek wisata Pantai Banyu Tibo di Kabupaten Pacitan, yang selama ini belum diimbangi perencanaan tata kelola yang matang. Ia juga berperan dalam pengelolaan dan optimalisasi Tanah Kas Desa, termasuk pemasangan plang batas dan penyusunan modul pemanfaatannya.
Sebagian besar program kerja KKN-PPM, termasuk yang dijalankan Fransiska, dilaksanakan secara interdisipliner dengan melibatkan empat klaster keilmuan di UGM, yaitu agro, sains dan teknologi, medika, serta sosial-humaniora. Selain itu, Fransiska turut berperan dalam program edukasi geologi dan keselamatan wilayah pesisir bagi warga di Desa Widoro, mengingat wilayah pesisir selatan Jawa ini memiliki potensi risiko gempa bumi dan tsunami, pengembangan sistem peringatan dini (Early Warning System) berbasis teknologi tepat guna untuk kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana tanah longsor, serta pemanfaatan limbah batok kelapa menjadi briket arang sebagai bahan bakar alternatif yang bernilai ekonomis.
âProgram-program yang kami jalankan di Desa Widoro, mulai dari menyusun masterplan dan business plan wisata Pantai Banyu Tibo, optimalisasi dan pengamanan aset tanah kas desa, hingga membangun sistem peringatan dini longsor, mengajarkan saya bahwa ilmu yang kami pelajari di kampus baru benar-benar terasa maknanya ketika bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,â ujar Fransiska Deiss.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Widoro. Melalui perencanaan yang lebih matang, Pantai Banyu Tibo diharapkan dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata yang tidak hanya memiliki daya tarik, tetapi juga dikelola secara lebih terarah dan berkelanjutan. Di sisi lain, optimalisasi aset desa serta peningkatan kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian masyarakat.

Program KKN-PPM Tim Morodonorojo juga memiliki keterkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan tata kelola dan perencanaan bisnis wisata Pantai Banyu Tibo. Kontribusi juga diarahkan pada SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui edukasi kebencanaan, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, dan penerapan sistem peringatan dini longsor di wilayah pesisir.
Berakhirnya masa KKN-PPM bukan menjadi akhir dari kontribusi mahasiswa di tengah masyarakat. Pengalaman selama 50 hari menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana pengetahuan akademik dapat diterapkan dalam konteks kehidupan masyarakat. Bagi Desa Widoro, kehadiran Tim Morodonorojo diharapkan menjadi bagian dari proses penguatan potensi lokal, tata kelola desa, dan ketahanan masyarakat yang dapat terus dikembangkan setelah program KKN-PPM berakhir. [Red. Fransiska Deiss]
