Tanjungpinang – Tim KKN-PPM UGM Gemerlap Pinang 2026 menggelar Gelar Budaya Pulau Penyengat bertema “Penyengat Gemilang, Bingkai Budaya Melayu” pada 1–2 Agustus 2026 di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Kegiatan ini mengangkat kekayaan sejarah dan budaya Melayu melalui konsep wisata interaktif sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi setempat.
Pulau Penyengat memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang kuat, mulai dari peninggalan Kesultanan Riau-Lingga hingga berbagai warisan budaya Melayu seperti pantun, gurindam, tari tradisional, dan pencak silat. Potensi tersebut menjadi dasar bagi Tim KKN-PPM UGM untuk mengembangkan pengalaman wisata yang tidak hanya mengandalkan kunjungan ke situs bersejarah, tetapi juga menghadirkan interaksi langsung dengan kesenian dan tradisi masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat lokal dilibatkan sebagai bagian utama dari rangkaian kegiatan, mulai dari penari, pelantun pantun dan syair, hingga pemandu wisata. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan potensi budaya sekaligus menciptakan pengalaman wisata yang lebih hidup bagi pengunjung.
   
Salah satu kegiatan utama dalam Gelar Budaya Pulau Penyengat adalah Touring Cagar Budaya & Treasure Hunt. Dengan didampingi tour guide lokal, pengunjung diajak menelusuri sejumlah situs bersejarah sambil mengikuti pertunjukan budaya yang ditempatkan di berbagai titik perjalanan. Tari Penyambutan di Masjid Raya Penyengat, pertunjukan tari dan berbalas pantun di Istana Kantor, permainan gasing tradisional di Gedung Tabib, lantunan Gurindam 12 di Makam Engku Putri, hingga Tari Zapin di Balai Adat menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Konsep tersebut dirancang agar kunjungan ke situs sejarah tidak berhenti pada aktivitas melihat dan berfoto, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang memungkinkan pengunjung mengenal sejarah dan budaya Melayu secara lebih dekat. Berdasarkan hasil observasi Tim KKN-PPM UGM, kunjungan wisata di Pulau Penyengat masih cenderung berlangsung dalam waktu singkat. Karena itu, pengembangan atraksi interaktif di sejumlah titik warisan budaya diharapkan dapat memperkaya aktivitas wisata sekaligus meningkatkan keterlibatan pengunjung selama berada di Pulau Penyengat.
Rangkaian perjalanan kemudian diarahkan menuju Pasar Kecik (Pasar Warisan) yang menghadirkan produk kuliner dan kriya dari UMKM masyarakat lokal. Penempatan pasar sebagai bagian dari rute wisata menjadi upaya untuk menghubungkan pengalaman budaya dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya menikmati pertunjukan dan situs sejarah, tetapi juga memiliki ruang untuk berinteraksi serta membeli produk yang dihasilkan masyarakat setempat.
Selain wisata interaktif, Gelar Budaya Pulau Penyengat juga menghadirkan kegiatan yang memperkuat pengenalan dan pelestarian budaya Melayu. Rangkaian kegiatan mencakup Talkshow Budaya Melayu bertajuk “Jejak Kesultanan Riau-Lingga dalam Membentuk Identitas Budaya Melayu di Kepulauan Riau”. Talkshow tersebut membahas sejarah dan tokoh-tokoh dalam perkembangan sastra Melayu serta strategi generasi muda dalam menjaga warisan budaya melalui pemanfaatan media digital.

Kegiatan juga dilengkapi dengan Senam Sehat dan Layanan Screening Kesehatan sebagai bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat. Pada malam hari, masyarakat dan pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan budaya, penayangan video profil “Pulau Penyengat Cikal Bakal Bahasa Persatuan”, penampilan musik, kolaborasi dengan perguruan tinggi lokal, serta Tari Zapin yang dibawakan oleh Tim KKN-PPM UGM. Apresiasi juga diberikan kepada sejumlah pihak yang terlibat dalam pengembangan kegiatan, termasuk dalam bidang kreativitas digital, pemanduan wisata, dan pertunjukan budaya.
Tidak hanya berfokus pada pelaksanaan acara, Tim KKN-PPM UGM juga menyiapkan sejumlah luaran yang dapat dimanfaatkan setelah program berakhir. Luaran tersebut mencakup pelatihan tour guide lokal dalam menyampaikan cerita sejarah, dokumentasi narasi sejarah pada sejumlah situs, serta Peta Wisata Aktif yang dapat mendukung pengembangan rute wisata berbasis pengalaman. Berbagai aset dokumentasi dan konten digital juga diharapkan dapat membantu memperkenalkan potensi budaya Pulau Penyengat kepada masyarakat yang lebih luas.
Suhaima Ahmad, mahasiswa DEB SV UGM, menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Gelar Budaya Pulau Penyengat. Menurutnya, kekayaan budaya yang dimiliki Pulau Penyengat dapat menjadi kekuatan untuk mengembangkan pariwisata sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.
“Melalui Gelar Budaya ini, kami ingin memberdayakan masyarakat lokal dengan memanfaatkan kekayaan budaya Melayu yang begitu luar biasa. Saya sangat bangga dan kagum menyaksikan keindahan tradisi Melayu serta besarnya peran sejarah kawasan ini bagi Indonesia. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan dorongan bagi perekonomian warga saat ini, tetapi juga terus berjalan secara berkelanjutan. Bagi kami, seluruh rangkaian acara ini adalah wujud nyata rasa sayang dan tanda cinta kami untuk Pulau Penyengat, tempat kami mengabdi,” ujar Suhaima.
Keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah, pemuda lokal, perguruan tinggi, dan pelaku UMKM dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga pada keberlanjutan manfaat bagi masyarakat. Pengembangan atraksi budaya dan keterampilan pemandu lokal diharapkan dapat menjadi modal bagi masyarakat untuk melanjutkan pengelolaan potensi wisata secara mandiri.
Melalui pelaksanaan Gelar Budaya Pulau Penyengat, KKN-PPM UGM berharap kegiatan ini dapat menjadi pijakan awal bagi pengembangan ekosistem pariwisata berbasis budaya yang mandiri dan berkelanjutan. Dengan sinergi yang terus terjalin antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pemuda lokal, Pulau Penyengat diharapkan tidak hanya semakin dikenal karena kekayaan sejarah dan budaya Melayunya, tetapi juga mampu berkembang sebagai destinasi wisata yang berdaya secara ekonomi serta menawarkan pengalaman yang bermakna bagi pengunjung.

[Red. Suhaima Ahmad]
