Mahasiswa Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan (PEK) angkatan 2024, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, melaksanakan kegiatan diseminasi hasil Project-Based Learning (PBL) pada Jumat (26/6) di Kantor Wali Kota Yogyakarta. Kegiatan ini mengusung tema “Perencanaan Wilayah untuk Kota Yogyakarta yang Inklusif dan Berkelanjutan” sebagai bentuk implementasi pembelajaran berbasis proyek yang menghubungkan proses akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Kegiatan diseminasi dihadiri oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, S.E., M.M., serta dosen pendamping mata kuliah, Dr. Anggi Rahajeng, M.Ec., GRCE. Dalam forum ini, mahasiswa mempresentasikan hasil kajian kawasan beserta rekomendasi pengembangan wilayah yang telah disusun berdasarkan analisis komprehensif terhadap berbagai isu perkotaan di Kota Yogyakarta.
Pelaksanaan Project-Based Learning ini dilatarbelakangi oleh semakin kompleksnya tantangan pembangunan kawasan perkotaan dan wilayah, mulai dari tekanan terhadap lingkungan, keterbatasan daya dukung infrastruktur, kesenjangan aksesibilitas, hingga kebutuhan untuk meningkatkan ketahanan kawasan dalam menghadapi berbagai risiko dan perubahan. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan perencanaan wilayah yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa melakukan studi mendalam pada enam kawasan strategis di Kota Yogyakarta, yaitu kawasan Sungai Code, Malioboro, Kotagede, Prawirotaman, Sungai Gajah Wong, dan Wirobrajan. Masing-masing kawasan memiliki karakteristik, potensi, dan tantangan pembangunan yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan perencanaan yang kontekstual dan terintegrasi. Analisis kawasan dilakukan menggunakan empat konsep utama, yaitu Sustainable Development, Carrying Capacity, Inclusivity, dan Urban Resilience. Keempat konsep tersebut digunakan untuk menilai keseimbangan pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan; kemampuan kawasan dalam menampung aktivitas masyarakat; tingkat aksesibilitas bagi seluruh kelompok masyarakat; serta ketangguhan kawasan dalam menghadapi berbagai tekanan dan risiko. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa mengidentifikasi kondisi eksisting kawasan, berbagai permasalahan utama, kesenjangan antara kondisi saat ini dan kondisi ideal, serta merumuskan rekomendasi arah pengembangan yang dapat mendukung peningkatan kualitas kawasan. Hasil kajian ini kemudian dirangkum dalam bentuk booklet sebagai salah satu luaran utama kegiatan PBL.
Kegiatan diseminasi ini menjadi ruang dialog antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam membahas isu strategis pembangunan wilayah Kota Yogyakarta. Selain menjadi sarana penyampaian hasil kajian mahasiswa, forum ini juga memperkuat kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan pemangku kebijakan dalam upaya mendorong pembangunan kota yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tahan. [Red. Anggi Rahajeng and Team]

