Delegasi mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menorehkan prestasi dengan membawa pulang Juara 2 (1st Runner Up) pada ajang bergengsi Global Social Enterprise Competition 2026. Penyelenggaraan kompetisi ini dipercayakan kepada Faculty of Business Administration, Rajamangala University of Technology Isan (RMUTI), Nakhon Ratchasima, Thailand. Sesi final beserta pengumuman juara digelar pada Jumat (26 Juni 2026) dalam format hybrid yang menghadirkan kontingen terbaik dari berbagai negara.
Tim yang menamakan diri Khob Khun ini terdiri atas Naufal Septio Farhurrahman (Teknologi Informasi 2022), Nisya Ramadhani (Manajemen dan Penilaian Properti 2024), Salma Amalia (Teknologi Pertanian 2023), Sahda Huwaidah Estiningtyas (Statistika 2024), dan Nisrina Athyra Karimah (Gizi Kesehatan 2023). Lewat proposal bertajuk “Javaffe: Brewing Value from Coffee Waste”, tim ini mengusung konsep social enterprise sebagai jawaban atas permasalahan limbah kopi dengan memanfaatkan prinsip ekonomi sirkular.
Nisya Ramadhani mengungkapkan bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap melimpahnya sisa hasil pengolahan kopi, terutama kulit buah kopi (coffee husk), yang hingga kini masih banyak terabaikan dan kerap dimusnahkan melalui pembakaran maupun dibuang tanpa pengolahan. Padahal, posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terkemuka di dunia menyimpan potensi besar untuk menjadikan limbah tersebut sebagai sumber nilai ekonomi baru.
“Lewat Javaffe, kami merancang model bisnis yang mampu mengolah limbah kopi menjadi dua produk andalan, yakni Cascara Tea, minuman herbal premium dari kulit buah kopi, serta Coffee Aromatherapy Briquettes, briket biomassa dari limbah kopi beraroma khas kopi. Di samping itu, kami turut melibatkan pemuda lokal secara aktif mulai dari tahap produksi, pengemasan, sampai pemasaran, sehingga dampak yang dihasilkan menjangkau dimensi ekonomi, sosial, sekaligus lingkungan,” tutur Nisya.
Proses kompetisi dimulai dari tahap penyaringan proposal bisnis dengan kriteria penilaian yang mencakup unsur inovasi, dampak sosial, kelayakan usaha, keberlanjutan, serta kesiapan implementasi. Proposal-proposal terpilih selanjutnya berkesempatan maju ke babak final untuk memaparkan rencana bisnis mereka di hadapan panel juri bertaraf internasional.
Di babak final, Tim Khob Khun tampil mempresentasikan Javaffe kepada para juri dan beradu dengan kontestan dari berbagai penjuru dunia. Tidak sekadar memaparkan model bisnis dan strategi pengembangan usaha, tim pun menyajikan analisis pasar, studi kelayakan, hingga proyeksi keberlanjutan bisnis jangka panjang sebagai bagian dari penilaian komprehensif kompetisi.
Pencapaian Juara 2 di panggung internasional ini menegaskan bahwa sinergi lintas disiplin ilmu sanggup melahirkan solusi bisnis yang tidak hanya unggul secara komersial, namun sekaligus memberi dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Keberhasilan Javaffe membuktikan bahwa mahasiswa UGM mampu mengubah limbah pertanian menjadi peluang ekonomi yang berarti, sekaligus mendorong model bisnis berkelanjutan yang relevan di tingkat global. [Red. Nisya Ramadhani]
