Bulukumba — Potensi ekonomi dan pariwisata Desa Darubiah dan Desa Bira menjadi fokus pengabdian Oktavio Rizki, mahasiswa Program Studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), melalui program KKN-PPM UGM di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Bersama tim, Oktavio menjalankan berbagai program yang melibatkan pemerintah daerah, pelaku UMKM, lembaga mitra, dan masyarakat untuk memperkuat kapasitas sekaligus membuka ruang bagi potensi lokal agar dapat berkembang dan dikenal lebih luas.
Salah satu fokus kegiatan tersebut diwujudkan melalui program sosialisasi, fasilitasi, dan pendampingan sertifikasi halal bagi produk-produk UMKM di Desa Bira dan Desa Darubiah. Sertifikasi halal merupakan bentuk jaminan resmi dari negara bahwa suatu produk telah memenuhi ketentuan kehalalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bagi pelaku UMKM, sertifikasi ini menjadi salah satu aspek penting dalam memberikan kepastian kepada konsumen sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap produk yang dipasarkan.
Dalam pelaksanaannya, Oktavio bersama petugas Pendamping Proses Produk Halal (P3H) mendampingi pelaku UMKM untuk memahami proses sertifikasi halal, mulai dari persyaratan hingga dokumen yang perlu disiapkan. Pendampingan ini dilakukan dalam rangka program Wajib Halal Oktober (WHO) 2026, yaitu program fasilitasi sertifikasi halal gratis bagi pelaku usaha. Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Provinsi Sulawesi Selatan, H. Rusfandi, S.St., menyampaikan bahwa jangkauan sosialisasi dan layanan sertifikasi halal BPJPH di Sulawesi Selatan masih menghadapi keterbatasan, khususnya untuk menjangkau seluruh wilayah kabupaten dan kota. Kondisi tersebut juga ditemukan Oktavio dan tim ketika melakukan observasi di Desa Bira dan Desa Darubiah. Berdasarkan hasil komunikasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat, informasi mengenai program sertifikasi halal gratis masih belum tersosialisasi secara optimal di kedua wilayah tersebut.
  
Sosialisasi dilakukan dengan mendatangi pelaku usaha secara door to door, sehingga informasi mengenai program sertifikasi halal dapat disampaikan dengan tepat sasaran. Program pendampingan tersebut menghasilkan tujuh sertifikat halal bagi produk UMKM di Desa Darubiah. Sertifikat tersebut kemudian diserahkan secara langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bulukumba, Muh. Ali Saeng, S.H., M.Si. kepada para pelaku UMKM dalam rangkaian Festival Darubira 2026. Penyerahan dilakukan pada momentum festival karena kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang berkumpulnya masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai pihak dari Desa Darubiah dan Desa Bira. Kehadiran sertifikat halal dalam rangkaian festival diharapkan tidak hanya menjadi bentuk apresiasi bagi pelaku UMKM yang telah menyelesaikan proses sertifikasi, tetapi juga dapat mendorong pelaku usaha lainnya untuk mulai mengenal dan mengurus sertifikasi halal bagi produknya. Dengan melihat langsung produk dan pelaku usaha yang telah memperoleh sertifikat, proses sertifikasi diharapkan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang jauh atau sulit dijangkau, terutama bagi pelaku UMKM yang sebelumnya belum memperoleh informasi yang cukup mengenai program tersebut.
Festival Darubira, Ruang Bertemunya Potensi Lokal

Tidak berhenti pada penguatan kapasitas pelaku usaha, pengembangan potensi lokal juga membutuhkan ruang untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas. Hal tersebut diwujudkan melalui Festival Darubira 2026, yang menjadi salah satu program utama KKN-PPM UGM Unit Kareba Kumba dalam memperkenalkan potensi ekonomi, budaya, dan pariwisata Desa Darubiah dan Desa Bira. Festival ini dilaksanakan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Sekretariat Daerah Kabupaten Bulukumba, Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bulukumba, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Bulukumba, Forkopimcam Bonto Bahari, serta seluruh unsur masyarakat Desa Bira dan Desa Darubiah.

Rangkaian kegiatan Festival Darubira 2026 berlangsung dalam dua sesi. Pada sesi pagi, masyarakat dapat mengikuti berbagai kegiatan yang berfokus pada kesehatan dan pemberdayaan, mulai dari donor darah yang didukung oleh PMI Kabupaten Bulukumba dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga live cooking melalui program Dapur Sehat. Kehadiran kegiatan tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan sekaligus mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat. Memasuki sesi malam, suasana festival beralih pada pengenalan potensi ekonomi, sejarah, dan budaya lokal. Stand UMKM menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka kepada masyarakat dan pengunjung. Di sisi lain, Gallery Zone menghadirkan berbagai informasi mengenai rangkaian program kerja KKN-PPM UGM selama berada di Bulukumba, sekaligus memperkenalkan sejarah dan budaya Bulukumba, termasuk sejarah Kapal Pinisi yang menjadi salah satu identitas penting masyarakat Bulukumba.
Seluruh rangkaian acara Festival Darubira 2026 kemudian ditutup dengan “Grand Cultural Performance”, yang menampilkan kekayaan budaya lokal melalui pertunjukan lomba fashion show dengan pakaian adat khas Bira yang diikuti oleh masyarakat setempat. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat di luar Bulukumba sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk turut mengenal dan menampilkan identitas budaya daerahnya. Dengan menghadirkan kegiatan kesehatan, UMKM, edukasi, sejarah, hingga pertunjukan budaya dalam satu rangkaian, harapannya kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda perayaan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan potensi yang dimiliki, memperkenalkan produk lokal, serta memperkuat interaksi antara masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan wilayah.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Oktavio bersama Tim KKN-PPM UGM Unit Kareba Kumba turut serta menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas masyarakat yang berangkat dari potensi yang telah dimiliki. Sertifikasi halal memberikan penguatan pada aspek legalitas dan kepercayaan terhadap produk UMKM, sementara Festival Darubira 2026 menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan potensi ekonomi, budaya, kesehatan, dan pariwisata yang dimiliki. Pada akhirnya, pengabdian tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan lokasi KKN. Pengetahuan yang telah dibagikan, jejaring yang telah dibangun, serta berbagai luaran yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi modal bagi masyarakat untuk melanjutkan pengembangan potensi lokal secara mandiri dan berkelanjutan.
[Red. Oktavio Rizki]
