Penulis: Yuni Andari
Kemampuan keluarga menghadapi guncangan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh cara keluarga merencanakan pengeluaran dan mempersiapkan kebutuhan masa depan. Sikap hemat dan menabung dapat menjadi bagian dari strategi membangun ketahanan keuangan rumah tangga, terutama ketika menghadapi kehilangan pekerjaan, kenaikan harga kebutuhan pokok, atau kebutuhan mendesak. Oleh karena itu, pembentukan nilai keuangan dalam keluarga berkaitan dengan SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan dan SDG 8 tentang pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi. Meskipun demikian, menabung bukan satu-satunya solusi kemiskinan karena kemampuan menyisihkan pendapatan juga bergantung pada kecukupan penghasilan dan akses terhadap perlindungan sosial.
Berdasarkan analisis 397.730 observasi dari World Values Survey (WVS) dan European Values Study (EVS), penelitian menemukan bahwa generasi yang lebih muda cenderung kurang menekankan pentingnya mengajarkan sikap hemat dan menabung kepada anak dibandingkan Baby Boomer. Generasi X, Y, dan Z memiliki kecenderungan lebih rendah, dengan Generasi Z berada pada posisi terendah. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan nilai antargenerasi yang perlu diperhatikan dalam upaya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Namun, temuan tersebut mengukur pandangan responden mengenai nilai yang penting diajarkan kepada anak, bukan jumlah tabungan, kebiasaan menabung aktual, atau tingkat kerentanan ekonomi rumah tangga.
Karakteristik demografi dan sosial ekonomi memberikan gambaran tambahan. Status menikah berkaitan dengan odds 14,4% lebih tinggi dalam menilai sikap hemat dan menabung sebagai nilai penting. Sebaliknya, setiap kenaikan satu unit skala pendapatan berkaitan dengan odds 3,4% lebih rendah, sementara status self-employed berkaitan dengan odds 12,6% lebih rendah dibandingkan kelompok referensinya. Pekerja paruh waktu menunjukkan odds 7,0% lebih tinggi, tetapi bukti statistiknya relatif lemah karena hanya signifikan pada tingkat 10%. Pendidikan juga menunjukkan hubungan negatif, dengan OR 0,970, sedangkan gender tidak signifikan. Pola tersebut mengingatkan bahwa preferensi keuangan berkaitan dengan kondisi dan pengalaman hidup yang beragam. Dari sisi makroekonomi, pertumbuhan PDB memiliki OR sekitar 1,002–1,003, sedangkan pendapatan per kapita yang dinyatakan dalam logaritma memiliki OR sekitar 0,906–0,919. Kedua variabel tersebut tidak signifikan secara statistik dalam model penelitian. Dengan demikian, analisis ini belum menemukan bukti yang cukup bahwa pertumbuhan ekonomi jangka pendek atau tingkat pendapatan per kapita suatu negara secara sistematis berkaitan dengan preferensi masyarakat untuk mengajarkan nilai hemat dan menabung kepada anak. Hal tersebut tidak berarti kondisi makroekonomi tidak penting bagi kesejahteraan keluarga. Temuan hanya menunjukkan bahwa hubungan langsung dengan preferensi nilai yang diteliti tidak terbukti secara statistik setelah memperhitungkan variabel lain dalam model.
Implikasi kebijakannya adalah bahwa penguatan budaya menabung perlu berjalan bersama upaya memperluas kesempatan kerja yang layak, meningkatkan literasi keuangan, memperkuat perlindungan sosial, dan memperluas akses terhadap layanan keuangan yang aman. Program pendidikan keuangan juga perlu menjangkau keluarga dengan kondisi pekerjaan dan pendapatan yang berbeda, bukan hanya mendorong masyarakat untuk menabung tanpa mempertimbangkan kemampuan ekonominya. Di tingkat keluarga, kebiasaan merencanakan pengeluaran dan menetapkan tujuan keuangan dapat diperkenalkan sejak dini; di tingkat kebijakan, masyarakat perlu memperoleh kesempatan ekonomi yang memungkinkan kebiasaan tersebut dijalankan. Pendekatan yang menggabungkan pendidikan nilai, kesempatan kerja, dan perlindungan ekonomi akan lebih relevan bagi pencapaian SDG 1 dan SDG 8 secara berkelanjutan.
Referensi
Lusardi, A., & Mitchell, O. S. (2014). The economic importance of financial literacy: Theory and evidence. Journal of Economic Literature, 52(1), 5–44. https://doi.org/10.1257/jel.52.1.5
Webley, P., & Nyhus, E. K. (2006). Parents’ influence on children’s future orientation and saving. Journal of Economic Psychology, 27(1), 140–164. https://doi.org/10.1016/j.joep.2005.06.016
Gudmunson, C. G., & Danes, S. M. (2011). Family financial socialization: Theory and critical review. Journal of Family and Economic Issues, 32(4), 644–667. https://doi.org/10.1007/s10834-011-9275-y
United Nations. (n.d.). Goal 1: End poverty in all its forms everywhere. https://sdgs.un.org/goals/goal1
United Nations. (n.d.). Goal 8: Promote sustained, inclusive and sustainable economic growth, full and productive employment and decent work for all. https://sdgs.un.org/goals/goal8
[Red. Yuni Andari]


