Jeneponto, Sulawesi Selatan — Melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN-PPM UGM) Periode 2 Tahun 2025 di Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan menjadi salah satu wujud nyata pengabdian mahasiswa. Bersama unit tim Attannung Jeneponto, sebanyak 30 mahasiswa melaksanakan KKN selama 50 hari yang terbagi atas empat desa, yakni Desa Bangkalaloe, Desa Bulusibatang, Desa Kareloe, dan Desa Tanammawang. Kegiatan KKN ini mengusung tema “Peningkatan Ekonomi Lokal dan Budaya PHBS Masyarakat serta Mengatasi Anak Tidak Sekolah” dengan beragam program kerja lintas disiplin ilmu.
Di Desa Kareloe, mahasiswa mengidentifikasi potensi ekowisata yang kaya akan bentang alam, rumah panggung berkuda, pertanian jagung dan cabai, hingga air terjun tersembunyi. Upaya pemetaan potensi ini dilakukan secara kolaboratif lintas jurusan, mulai dari visualisasi spasial, social mapping, hingga story maps digital yang kemudian dipadukan ke dalam sebuah policy brief sebagai pijakan strategis pembangunan desa.

Kontribusi penyusunan policy brief datang dari Rizky Dwi Alyani, akrab disapa Yaya, mahasiswa Prodi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan. Dengan latar keilmuan yang fokus pada keterkaitan sumber daya lokal dan pembangunan daerah, Yaya menekankan bagaimana diversifikasi sektor wisata dapat menjadi strategi peningkatan ekonomi lokal secara berkelanjutan. “Saya melihat Desa Kareloe punya potensi besar, mulai dari alam yang indah, perbukitan hijau, air terjun, hingga ciri khas kuda sebagai transportasi utama dalam berkebun dan rumah panggung. Sayangnya, selama ini semua itu hanya dimanfaatkan sebatas kebun dan ladang, belum benar-benar diolah sebagai kekuatan ekonomi. Policy brief ini disusun agar pemerintah daerah bisa lebih melek, sehingga potensi unik Desa Kareloe masuk dalam dokumen perencanaan dan mampu mendorong peningkatan ekonomi lokal sekaligus menjaga identitas budayanya,” ujarnya.
Policy brief tersebut menyoroti empat kekuatan utama Desa Kareloe, yakni perbukitan hijau yang potensial untuk trekking, rumah panggung dengan kandang kuda sebagai identitas budaya, pertanian pangan (jagung dan cabai) yang bisa terintegrasi dengan wisata edukasi, serta air terjun alami yang masih tersembunyi. Dengan pengelolaan tepat, potensi ini diyakini dapat menghadirkan konsep experience-based tourism atau wisata berbasis pengalaman yang menekankan keterlibatan langsung wisatawan dalam aktivitas keseharian masyarakat.
Dengan penyerahan policy brief langsung ke pihak Bupati dan Bappeda Kabupaten Jeneponto, hasil kerja mahasiswa tidak berhenti di level desa, tetapi juga terkoneksi dengan kebijakan tingkat kabupaten. Policy brief ini bukan ditujukan untuk menjadikan Desa Kareloe langsung sebagai desa wisata secara instan, melainkan sebagai pemantik kesadaran bagi pemerintah bahwa ada potensi besar untuk mendorong ekonomi lokal. Dari sana, langkah-langkah lanjutan seperti pemberdayaan SDM dan pembangunan infrastruktur dapat dirancang secara bertahap dan berkelanjutan. [Red. Amesta]