Temuan awal penelitian Sekolah Vokasi UGM menunjukkan bahwa kemudahan kredit perlu disertai perlindungan, transparansi biaya, dan penilaian kemampuan bayar agar benar-benar mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
News
Pengarusutamaan gender kerap dibenturkan dengan narasi religiositas di negara-negara mayoritas Muslim. Namun, hasil riset dari Dosen DEB SV UGM, Nurisqi Amalia dan tim, menunjukkan bahwa religiositas personal bukanlah faktor tunggal pembentuk sikap terhadap kesetaraan gender di Indonesia dan Malaysia. Melalui studi komparatif berbasis data World Values Survey (WVS), riset ini mengonfirmasi bahwa pandangan terhadap keterlibatan perempuan di ranah eksekutif bisnis, politik, dan pendidikan tinggi terus berkembang secara dinamis mengikuti variabel konteks dan periode waktu. Hasil penelitian ini memiliki relevansi erat dengan pencapaian SDG 5 (Gender Equality), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), serta SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), khususnya di lingkup Program Studi Manajemen dan Penilaian Properti (MPP) DEB SV UGM.
Pembangunan manusia yang inklusif merupakan pilar utama agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Pemukiman Berkelanjutan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Di negara-negara mayoritas Muslim, wacana publik kerap diwarnai narasi bahwa religiositas masyarakat merupakan hambatan utama bagi kesetaraan gender. Menanggapi isu ini, tim peneliti Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (DEB SV UGM)âNurisqi Amalia bersama timâmenyusun studi komparatif berskala luas menggunakan data World Values Survey (WVS) pada responden Muslim di Indonesia dan Malaysia lintas dua gelombang survei (Wave 5 dan Wave 7).
Lembaga keuangan nonbank kian menjadi andalan masyarakat untuk urusan keuangan, mulai dari kredit kendaraan di perusahaan pembiayaan, investasi di reksa dana, hingga pinjaman daring lewat aplikasi fintech. Di balik kemudahan itu, pertumbuhan sektor yang dikenal sebagai shadow banking ini ternyata berkaitan dengan naiknya kredit bermasalah di bank-bank yang menyalurkan kredit secara agresif.
Yogyakarta â Universitas Gadjah Mada menerima Penghargaan Mitra Strategis dari Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) atas kontribusinya dalam mendukung penguatan literasi, riset, dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia (SDM) bagi industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia.
Yogyakarta – Lima sivitas Departemen Ekonomika dan Bisnis (DEB) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) meraih penghargaan dalam rangkaian peringatan Dies Natalis ke-17 Sekolah Vokasi UGM tahun 2026. Penghargaan tersebut mencakup kategori insan berprestasi serta pemenang lomba di bidang olahraga dan kreativitas konten yang berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026.
Keberlanjutan ketahanan pangan Indonesia berkaitan erat dengan kemampuan sektor pertanian mempertahankan jumlah petani dari satu generasi ke generasi berikutnya. Isu ini dikaji oleh Kun Haribowo dan Mudrajad Kuncoro dari Universitas Gadjah Mada (UGM), serta Sigit Setiawan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui penelitian âIdentifying the Pathway of Indonesiaâs Food Security Industry for Sustainable Developmentâ. Ketika petani yang meninggalkan sektor pertanian tidak diimbangi oleh masuknya petani baru, kapasitas sumber daya manusia yang menopang produksi pangan berisiko terus berkurang.
Ketahanan pangan Indonesia menghadapi sejumlah tantangan struktural, antara lain penuaan populasi petani, keterbatasan lahan pertanian, dan perubahan luas panen. Persoalan ini dikaji oleh Kun Haribowo dan Mudrajad Kuncoro dari Universitas Gadjah Mada (UGM), serta Sigit Setiawan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam penelitian âIdentifying the Pathway of Indonesiaâs Food Security Industry for Sustainable Developmentâ. Untuk mengenali faktor yang paling menonjol, penelitian tersebut menggunakan Artificial Neural Network (ANN), atau jaringan saraf tiruan.
Ketika mendengar ada keluarga yang pindah dari Jakarta ke daerah, banyak orang mungkin langsung menduga keluarga itu sedang mengalami kesulitan ekonomi. Biaya hidup di ibu kota memang tinggi, sementara upah di daerah lebih rendah. Namun, penelitian Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM bersama Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM menunjukkan hal yang sebaliknya. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, keluarga yang kepala rumah tangganya pindah provinsi dalam lima tahun terakhir justru memiliki lebih banyak barang berharga daripada penduduk setempat yang kondisinya sebanding.
Selama ini, merantau hampir selalu identik dengan berangkat ke Jakarta untuk mencari penghasilan yang lebih besar. Namun, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024 memperlihatkan arus yang berlawanan. Dalam lima tahun terakhir, untuk setiap satu kepala rumah tangga yang pindah ke Jakarta, ada sekitar tiga yang justru pindah keluar. Temuan ini berasal dari penelitian Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM bersama Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM yang memetakan perpindahan penduduk antarprovinsi di seluruh Indonesia. Hasilnya, dua arus perpindahan terbesar sama-sama berangkat dari Jakarta, yaitu menuju Jawa Barat dan Jawa Tengah.
