Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY), yang meliputi Kota Yogyakarta dan sebagian Sleman serta Bantul, telah menjadi magnet utama bagi migrasi internal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk meningkatnya harga tanah di Kota Yogyakarta dan semakin tingginya kelayakan huni di wilayah sekitarnya, yang mendorong penduduk untuk mencari hunian di KPY. Seiring dengan pertumbuhan populasi yang terus meningkat, pemahaman tentang dinamika migrasi internal di DIY menjadi sangat penting. Peneliti dan pembuat kebijakan berusaha untuk mengeksplorasi pola migrasi guna mengembangkan strategi yang efektif untuk perencanaan dan pengembangan kota. Wawasan yang diperoleh dari penelitian ini akan sangat berguna dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh urbanisasi yang cepat dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan di wilayah tersebut. Dalam konteks tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), dinamika migrasi ini berkaitan dengan erat dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dan SDG 10 (Mengurangi Ketimpangan), karena menyangkut pemerataan akses terhadap perumahan layak, infrastruktur dasar, serta kualitas hidup antarwilayah.
Salah satu faktor kunci yang mempengaruhi migrasi ke KPY adalah meningkatnya biaya tanah di pusat kota. Seiring dengan intensifikasi urbanisasi, banyak penduduk yang merasa semakin sulit untuk membeli rumah di Yogyakarta. Akibatnya, mereka terpaksa mencari opsi yang lebih terjangkau di daerah sekitarnya, yang semakin menarik berkat perbaikan infrastruktur dan fasilitas. Selain itu, kelayakan huni di daerah sekitar Yogyakarta telah meningkat secara signifikan selama bertahun-tahun. Peningkatan kelayakan huni ini juga sejalan dengan komitmen terhadap SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), karena menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang inklusif dan akses konektivitas antarwilayah. Akses yang lebih baik ke pendidikan, layanan kesehatan, dan fasilitas rekreasi telah menjadikan wilayah ini menarik bagi keluarga dan profesional muda. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut, semakin berkontribusi pada arus masuk migran ke KPY.
Implikasi dari tren migrasi ini sangat mendalam. Pemerintah daerah harus menyesuaikan strategi perencanaan pembangunan mereka untuk mengakomodasi populasi yang terus berkembang. Ini termasuk investasi dalam infrastruktur, layanan publik, dan perumahan untuk memastikan bahwa kebutuhan penduduk baru dan yang sudah ada terpenuhi. Selain pengembangan infrastruktur, ada kebutuhan mendesak untuk perencanaan kota yang berkelanjutan yang mempertimbangkan dampak lingkungan. Pembuat kebijakan harus memprioritaskan ruang terbuka hijau, transportasi publik yang efisien, dan sistem pengelolaan limbah untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang layak huni. Ini sejalan dengan SDG 11, khususnya yang terkait dengan kota dan komunitas yang berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, memahami profil sosial-ekonomi para migran sangat penting untuk formulasi kebijakan yang efektif. Dengan menganalisis demografi mereka yang pindah ke KPY, pihak berwenang dapat menyesuaikan program dan layanan untuk lebih mendukung integrasi mereka ke dalam komunitas. Ini termasuk pelatihan kerja, peluang pendidikan, dan layanan sosial yang memenuhi kebutuhan populasi yang beragam. Seiring Yogyakarta terus menarik migran internal, sangat penting bagi para pemangku kepentingan untuk terlibat dalam upaya perencanaan kolaboratif. Ini melibatkan tidak hanya lembaga pemerintah tetapi juga organisasi masyarakat, bisnis, dan penduduk. Dengan mendorong pendekatan partisipatif, wilayah ini dapat mengembangkan strategi komprehensif yang mengatasi kompleksitas migrasi perkotaan.
Sebagai kesimpulan, dinamika migrasi kawasan perkotaan di Yogyakarta menyajikan tantangan dan peluang. Dengan memanfaatkan penelitian dan wawasan berbasis data, pembuat kebijakan dapat menciptakan kerangka kerja untuk pembangunan berkelanjutan yang menguntungkan semua penduduk. Masa depan KPY bergantung pada perencanaan proaktif dan komitmen untuk membangun lingkungan perkotaan yang inklusif dan tangguh. [Red. Anggi]
Keyword SDG:
SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)
SDG 10 (Mengurangi Ketimpangan)
SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan)
