Stabilitas ekonomi nasional berawal dari kemandirian finansial setiap rumah tangga. Dalam konteks agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), kemampuan masyarakat untuk menabung menjadi indikator krusial dalam mencapai SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak).
Sebuah studi mendalam terhadap 88.865 rumah tangga di Indonesia menggunakan data Susenas Modul Kor 2023 mengidentifikasi faktor-faktor penentu utama yang meningkatkan peluang rumah tangga untuk memiliki tabungan. Mayoritas rumah tangga (sekitar 60%) memang memiliki tabungan, namun keberhasilannya dipengaruhi tiga pilar utama.
Tiga Pilar Penentu Tabungan
- Akses Layanan Keuangan Formal: Ini adalah faktor paling dominan. Akses yang mudah ke bank atau lembaga keuangan formal memberikan sarana aman dan terpercaya untuk penyimpanan dana.
- Jenjang Pendidikan Tinggi: Pendidikan yang lebih tinggi berkorelasi langsung dengan peluang menabung yang lebih besar, menggarisbawahi pentingnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dalam membentuk individu yang cerdas finansial.
- Kepemilikan Jaminan Rumah Tangga (Aset): Kepemilikan aset jangka panjang mendorong perencanaan keuangan yang matang dan kebutuhan akan cadangan dana.
Jaminan Kesehatan Sebagai “Pengganti Tabungan”
Studi ini menemukan temuan unik: Jaminan Kesehatan justru memiliki korelasi negatif terhadap tabungan. Hal ini ditafsirkan sebagai mekanisme substitusi. Ketika rumah tangga terlindungi oleh asuransi (seperti BPJS, sesuai SDG 3), mereka merasa aman dari biaya medis mendadak dan mengurangi kebutuhan untuk menimbun uang tunai sebagai precautionary saving.
Jalan Menuju SDGs 2030
Untuk menguatkan fondasi ekonomi dan mencapai target SDGs, kebijakan di Indonesia harus berfokus pada dua area kunci:
- Prioritas Inklusi Keuangan: Memperluas akses layanan keuangan ke seluruh pelosok negeri adalah strategi paling efektif untuk membangun ketahanan ekonomi rumah tangga, mendukung SDG 1.
- Peningkatan Literasi Finansial: Memastikan kualitas pendidikan yang relevan agar masyarakat mampu mengelola pendapatan dan aset secara optimal, mendorong ketersediaan modal domestik untuk SDG 8.
Dengan memperkuat inklusi dan edukasi, Indonesia dapat memastikan bahwa pertumbuhan ekonominya berlandaskan kemandirian finansial masyarakat yang kokoh dan berkelanjutan. [Red. Laksmi Yustika Devi]