Ketika mendengar ada keluarga yang pindah dari Jakarta ke daerah, banyak orang mungkin langsung menduga keluarga itu sedang mengalami kesulitan ekonomi. Biaya hidup di ibu kota memang tinggi, sementara upah di daerah lebih rendah. Namun, penelitian Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM bersama Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM menunjukkan hal yang sebaliknya. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, keluarga yang kepala rumah tangganya pindah provinsi dalam lima tahun terakhir justru memiliki lebih banyak barang berharga daripada penduduk setempat yang kondisinya sebanding.
Kesejahteraan Keluarga Diukur dari Barang Berharga yang Dimiliki
Untuk mengukur kesejahteraan, tim peneliti menggunakan skor aset yang dihitung dari kepemilikan 13 jenis barang, seperti kulkas, AC, laptop, emas, sepeda motor, mobil, dan tanah. Semakin banyak barang berharga yang dimiliki, semakin tinggi skor sebuah keluarga. Setiap keluarga perantau kemudian dibandingkan dengan keluarga lain yang mirip dari segi usia, jenis kelamin, dan status perkawinan kepala keluarga, serta provinsi dan lingkungan tempat tinggalnya. Dengan cara ini, perbandingan antara keluarga perantau dan keluarga setempat menjadi lebih adil.
Keluarga Perantau Justru Memiliki Aset Lebih Banyak daripada Penduduk Setempat
Hasilnya, keluarga perantau memiliki skor aset sekitar 3 poin lebih tinggi daripada keluarga pembandingnya. Temuan ini cukup menarik, karena kepala keluarga perantau rata-rata delapan tahun lebih muda sehingga seharusnya belum lama mengumpulkan harta.
Selisih paling besar ditemukan pada keluarga yang pindah dari Jakarta, yaitu lebih dari dua kali lipat dibanding perantau dari provinsi lain. Tabungan dan barang yang dikumpulkan selama bekerja di Jakarta kemungkinan besar ikut dibawa ketika mereka pindah. Keluarga yang pulang ke kampung halaman pun tetap unggul dari penduduk setempat, sehingga anggapan bahwa orang pulang kampung karena gagal di kota tidak terlihat dalam data ini.
Pendidikan Menjadi Bekal Utama bagi Keluarga yang Berpindah
Gambaran ini berubah ketika tingkat pendidikan ikut diperhitungkan. Setelah pendidikan kepala keluarga dimasukkan ke dalam perbandingan, selisih aset antara perantau dan penduduk setempat hampir hilang. Artinya, keunggulan aset para perantau sebagian besar berjalan seiring dengan pendidikan mereka yang lebih tinggi.
Temuan ini menunjukkan bahwa pindah tempat tinggal membutuhkan bekal, mulai dari uang, informasi, dan jaringan hingga pendidikan. Keluarga yang tidak memiliki bekal tersebut cenderung tetap tinggal di tempatnya. Meski begitu, temuan ini tidak berarti bahwa merantau otomatis membuat keluarga lebih sejahtera, karena bisa jadi keluarga yang pindah memang sudah lebih mampu sejak awal.
Memperluas Pilihan bagi Keluarga yang Ingin Pindah maupun Bertahan
Bagi pemerintah daerah, pendatang lebih tepat dipandang sebagai potensi daripada beban, karena kondisi ekonomi mereka rata-rata tidak lebih rentan daripada penduduk setempat. Perhatian yang lebih besar justru perlu diberikan kepada keluarga berpendidikan rendah yang berisiko tertahan di daerah dengan peluang ekonomi terbatas.
Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukanlah mendorong orang untuk merantau, melainkan memperluas pilihan. Akses pendidikan yang merata, perlindungan sosial, dan penguatan ekonomi lokal dapat membantu keluarga yang ingin pindah memiliki bekal yang cukup, sementara keluarga yang memilih bertahan tetap memiliki peluang untuk sejahtera di daerahnya sendiri.
Kaitannya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Pendidikan yang menjadi bekal utama untuk berpindah menghubungkan temuan ini dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Perhatian pada keluarga yang tidak memiliki cukup bekal untuk pindah sejalan dengan SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), sedangkan upaya agar kesempatan memperbaiki kehidupan tidak hanya dinikmati kelompok yang sudah lebih mampu mendukung SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan). [Red. Anggi Rahajeng dan Tim]
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan penelitian berbasis Susenas Maret 2024. Skor aset menunjukkan posisi relatif antarkeluarga, bukan nilai kekayaan dalam rupiah. Temuan ini menggambarkan perbedaan pada saat survei, bukan bukti bahwa merantau menyebabkan aset keluarga bertambah.
