
Tiga mahasiswa Manajemen dan Penilaian Properti angkatan 2023 Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Agathon Arya Nugraha, Berlian Adinata Ramasula, dan Rois Hadi Prayitno, berhasil meraih juara pada Lomba Web Development dalam ajang IT Days 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tanggal 8 September 2026 hingga 18 Oktober 2026. Ketiganya mewakili UGM melalui karya bernama TECHSAS (Technology for Efficient & Centralized Handling of Strategic Assets), sebuah platform pengelolaan aset untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Prestasi ini terasa istimewa karena ketiganya tidak berasal dari rumpun informatika. Latar belakang mereka adalah manajemen dan penilaian properti, bidang yang selama ini lebih akrab dengan nilai pasar, penyusutan, dan analisis aset daripada kode program dan antarmuka web. Meski demikian, mereka memilih melangkah ke arena yang biasanya diisi mahasiswa teknologi informasi dan berhasil membawa pulang gelar juara.
Lomba Web Development IT Days 2026 mengusung tema utama Mens et Corpus (Pikiran dan Tubuh) dengan subtema Pemberdayaan Ekonomi dan UMKM. Pada subtema inilah tim UGM menghadirkan TECHSAS, platform manajemen aset terpadu berbasis cloud dan QR-Code Digital Passport yang dirancang bagi pelaku UMKM padat aset di Indonesia. Gagasannya berangkat dari satu pertanyaan sederhana: bagaimana pemilik usaha kecil dapat mengelola barang modalnya dengan rapi, tanpa harus membeli perangkat mahal atau sistem berskala korporasi.
Melalui TECHSAS, pemilik usaha dapat melacak kondisi fisik aset, mencatat riwayat pemeliharaan, mencegah aset hilang atau tertukar, serta menghitung nilai buku dan penyusutannya secara otomatis. Platform ini dirancang untuk beragam usaha, mulai dari rental kendaraan, rental kamera dan studio, gaming lounge, kafe dan coffee roastery, hingga penyewaan alat event.

TECHSAS memanfaatkan kamera ponsel staf melalui peramban untuk audit stok aset yang cepat, sehingga usaha tidak memerlukan alat pemindai khusus. Setiap aset memiliki stiker QR yang dapat dicetak dalam ukuran thermal maupun lembar A4. Pelanggan atau staf cukup memindai stiker tersebut untuk melaporkan kerusakan tanpa harus mendaftar atau masuk ke akun terlebih dahulu.
Di sisi pengelolaan, TECHSAS menghitung nilai buku aset secara langsung dengan metode garis lurus maupun saldo menurun. Platform ini juga dilengkapi modul tiket perbaikan dan klaim garansi, serta catatan audit permanen atas setiap perubahan data aset. Hak akses pengguna dibagi menjadi Super Admin, Unit Admin, dan Field Engineer agar tanggung jawab tiap peran tetap jelas. Dari sisi teknologi, TECHSAS dibangun dengan Next.js 14, TypeScript, dan Tailwind CSS, serta memakai Supabase (PostgreSQL) dengan Row Level Security untuk menjaga keamanan data. Antarmukanya mengadopsi bahasa desain yang bersih dan minimalis agar mudah dipakai oleh pemilik usaha yang bukan praktisi teknologi.
Bagi ketiganya, perjalanan menuju podium bukan tentang kemampuan yang sudah lengkap sejak awal. Pemrograman web adalah wilayah baru yang harus dipelajari dari dasar, di sela perkuliahan dan tanggung jawab akademik lainnya. Justru dari keterbatasan itulah mereka belajar menerjemahkan konsep yang akrab di kelas, seperti nilai buku, penyusutan, dan siklus hidup aset, menjadi fitur yang bisa dipakai pemilik usaha kecil.
Agathon mengaku bersyukur sekaligus merasa masih banyak yang harus dipelajari. “Kami sangat bersyukur atas hasil ini. Jujur saja, kami bukan orang yang paling pintar di bidang ini. Kami hanya orang-orang yang mau terus belajar, mau mencoba, dan tidak malu bertanya. Latar belakang kami penilaian properti, jadi hampir semuanya kami pelajari dari awal, selangkah demi selangkah,” ujar Agathon.
Berlian menambahkan bahwa pengalaman ini mengubah cara timnya memandang batas jurusan. “Kami belajar bahwa ilmu tidak berhenti di batas program studi. Gelar juara ini bukan garis akhir, melainkan pengingat bahwa kami masih punya banyak hal untuk dipelajari. Terima kasih kepada panitia HMIF Universitas Sanata Dharma, para juri, dosen, serta teman-teman yang telah mendukung kami,” kata Berlian.
Sementara itu, Rois menekankan pentingnya kerja sama tim. “Karya ini lahir dari saling belajar dan saling melengkapi. Harapan kami, TECHSAS dapat terus dikembangkan agar benar-benar bermanfaat bagi pelaku UMKM,” ujar Rois.

Gagasan TECHSAS diharapkan berkontribusi pada SDGs poin ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, dengan membantu UMKM mengelola aset usahanya secara lebih tertib dan berkelanjutan. TECHSAS juga sejalan dengan SDGs poin ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, melalui pemanfaatan teknologi web yang terjangkau bagi pelaku usaha kecil.
Keberhasilan ini menjadi pengingat bahwa batas jurusan bukanlah penghalang untuk berkarya. Bermodal kemauan untuk belajar dan keberanian untuk mencoba, mahasiswa Sekolah Vokasi UGM membuktikan bahwa kolaborasi lintas bidang dapat menghasilkan karya yang bermanfaat sekaligus membanggakan almamater di luar bidang studinya.
