
Yogyakarta – Sekolah Vokasi UGM bekerja sama dengan Institut Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI) dalam penelitian tentang kesiapan profesi akuntan manajemen menghadapi standar pelaporan keberlanjutan nasional. Kolaborasi ini melibatkan praktisi pelaporan keberlanjutan dalam diskusi kelompok terarah. Hasil diskusi itu dituangkan dalam skema sertifikasi praktisi ESG dan pelaporan keberlanjutan.
Menurut penelitian ini, kredibilitas laporan keberlanjutan bergantung pada keterlacakan data ke bukti. Skema sertifikasi yang disusun bersama praktisi sudah menekankan validasi data, penyusunan evidence file, dan pencegahan greenwashing. Tim juga merekomendasikan empat unit kompetensi baru agar skema selaras dengan PSPK 1 dan PSPK 2. Keempatnya mencakup materialitas keuangan, kuantifikasi efek keuangan, analisis skenario iklim, serta pengendalian internal dan kesiapan asurans.

“Akuntan manajemen paling kuat di hulu, yaitu sistem data, pengendalian, dan estimasi yang nantinya diuji auditor. Di situlah asosiasi profesi bisa berkontribusi besar,” kata Hilda Octavana Siregar, ketua tim peneliti.
Penelitian ini juga merekomendasikan agar regulator membedakan secara tegas verifikasi internal, verifikasi pihak ketiga, dan asurans independen. Tujuannya agar jalur pengembangan kompetensi profesi lebih jelas.
Kolaborasi ini mendukung SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui pelaporan yang transparan dan akuntabel, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kemitraan perguruan tinggi dan asosiasi profesi.
[Red. Hilda Octavana Siregar]
