Transformasi digital telah membuka peluang baru bagi industri perbankan Indonesia. Melalui kolaborasi dengan Financial Technology (FinTech), bank dapat memanfaatkan teknologi, keahlian, dan model bisnis inovatif untuk mengembangkan layanan keuangan. Namun, apakah kolaborasi tersebut selalu menghasilkan peningkatan kinerja keuangan?
Kolaborasi Digital Tidak Otomatis Meningkatkan Profitabilitas
Hasil penelitian pada 60 bank di Indonesia selama periode 2015-2024 menunjukkan bahwa aliansi FinTech tidak memiliki hubungan langsung yang signifikan secara statistik dengan ROAA maupun ROAE dalam model dasar. Temuan ini memberikan perspektif penting bahwa kerja sama dengan perusahaan teknologi tidak secara otomatis meningkatkan profitabilitas bank.
Aliansi FinTech memang memungkinkan bank memperoleh akses terhadap inovasi tanpa harus membangun seluruh kemampuan teknologi secara mandiri. Kolaborasi juga dapat membuka peluang untuk memperluas layanan dan meningkatkan efisiensi. Namun, manfaat tersebut bergantung pada bagaimana teknologi diintegrasikan ke dalam proses bisnis dan seberapa efektif bank mengelola biaya serta risiko kemitraan.
Dengan demikian, keberhasilan transformasi digital tidak cukup diukur berdasarkan jumlah kemitraan atau banyaknya produk digital yang diluncurkan. Bank perlu mengevaluasi apakah inovasi tersebut benar-benar meningkatkan efisiensi operasional, kualitas layanan, pengelolaan risiko, dan kinerja organisasi.
Inovasi Membutuhkan Integrasi dan Evaluasi Berkelanjutan
Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan yang berorientasi pada hasil dalam pengembangan inovasi keuangan. Bank perlu memastikan bahwa solusi teknologi dari mitra FinTech sesuai dengan kebutuhan bisnis, dapat diintegrasikan dengan sistem yang ada, serta memberikan manfaat yang dapat diukur.
Evaluasi biaya dan manfaat menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Bank juga perlu memperhatikan keamanan data, risiko operasional, ketergantungan terhadap penyedia teknologi, dan efektivitas koordinasi antarmitra. Tanpa pengelolaan yang memadai, biaya dan kompleksitas kolaborasi dapat mengurangi manfaat yang diharapkan.
Oleh karena itu, strategi inovasi perlu disertai indikator kinerja yang jelas, evaluasi berkala, dan mekanisme pengendalian risiko. Pendekatan ini dapat membantu industri perbankan memastikan bahwa investasi digital tidak berhenti pada adopsi teknologi, tetapi menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Kontribusi terhadap SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur
Penelitian ini mendukung pencapaian SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), khususnya melalui penguatan inovasi dan pengembangan industri jasa keuangan yang adaptif terhadap perubahan teknologi.
Kolaborasi bank dan FinTech merupakan salah satu bentuk inovasi dalam ekosistem keuangan digital. Akan tetapi, kontribusinya terhadap pembangunan industri yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi, melainkan juga oleh efektivitas pemanfaatan dan pengelolaannya.
Temuan penelitian memberikan pesan bahwa inovasi digital perlu diarahkan pada penciptaan nilai tambah yang terukur. Dengan mengintegrasikan teknologi secara tepat, mengelola risiko, dan mengevaluasi manfaat secara berkelanjutan, industri perbankan dapat memperkuat kapasitas inovasinya sekaligus mendukung perkembangan ekosistem keuangan digital Indonesia.
Penelitian ini memberikan landasan bagi bank dan pemangku kepentingan untuk mendorong transformasi digital yang tidak hanya modern secara teknologi, tetapi juga efektif secara ekonomi dan berkelanjutan.
SDGs terkait: SDG 9 — Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Peneliti: Ascariena Rafinda, Leo Indra Wardhana, Elton Buyung Satrianto, Paramita Her Astuti, Satriyo Dwicahyo, Diana Gustin Anggraini, Ega Putri Damayanti, dan Karisma Dewi Pratama
Sumber: Laporan akhir penelitian Aliansi FinTech dan Kinerja Perbankan Indonesia: Peran Tata Kelola Digital, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (2026).
