Banda Neira, Maluku Tengah – Kegiatan KKN-PPM UGM di Banda Neira menjadi ruang pembelajaran bagi Ariq Haiba Satria, mahasiswa Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan (PEK), Universitas Gadjah Mada, untuk memahami pembangunan inklusif melalui potensi dan kearifan lokal masyarakat. Salah satu kegiatan yang memberikan pembelajaran tersebut adalah eksplorasi dan dokumentasi pengetahuan obat tradisional bersama kelompok Mamalima.
Kegiatan ini mengangkat pengetahuan perempuan mengenai tanaman obat sebagai bagian dari kekayaan sosial dan budaya masyarakat Banda Neira. Pengetahuan yang berkembang di tengah masyarakat tersebut menunjukkan bahwa potensi pembangunan tidak hanya berasal dari sumber daya alam dan infrastruktur, tetapi juga dari pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.
Pengalaman bersama kelompok Mamalima turut memperlihatkan pentingnya pengakuan terhadap peran perempuan dalam pembangunan. Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat dari program pembangunan, tetapi juga memiliki pengetahuan dan kapasitas yang dapat berkontribusi terhadap kehidupan masyarakat. Karena itu, dokumentasi pengetahuan obat tradisional menjadi salah satu langkah untuk menghargai kearifan lokal sekaligus mendukung upaya pelestariannya.

Kegiatan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, serta SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. Keterkaitan ini tercermin melalui perhatian terhadap pengetahuan kesehatan tradisional, pengakuan atas kontribusi perempuan, dan pelestarian kearifan lokal sebagai bagian dari keberlanjutan komunitas.
Bagi Ariq, pengalaman di Banda Neira menjadi kesempatan untuk memahami pembangunan secara lebih kontekstual. Pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, penyediaan infrastruktur, atau pemenuhan layanan dasar, tetapi juga perlu mempertimbangkan kemampuan masyarakat dalam mengenali dan mengembangkan potensi yang telah dimiliki.
Pengalaman tersebut memperkuat pemahaman bahwa inclusive development atau pembangunan inklusif perlu memberikan ruang partisipasi yang setara bagi berbagai kelompok masyarakat, termasuk perempuan. Dengan menghargai pengetahuan lokal dan memperkuat peran masyarakat, pembangunan dapat dijalankan dengan lebih memperhatikan konteks sosial dan budaya setempat.
Melalui pengalaman KKN-PPM UGM di Banda Neira, Ariq memperoleh pembelajaran bahwa pembangunan berkelanjutan perlu tumbuh bersama masyarakat. Pengakuan terhadap peran perempuan, pelestarian kearifan lokal, dan pengembangan potensi komunitas menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

[Red. Ariq Haiba Satria]
