YOGYAKARTA – Pasar Beringharjo selalu punya cara untuk memikat siapa saja untuk melangkah ke dalamnya. Di balik hiruk-pikuk aktivitas tawar-menawar di lorong-lorongnya, tersimpan ragam kuliner khas yang belum banyak disorot pengunjung. Pada tanggal 6 Desember 2025, tim PASARASA melakukan sebuah perjalanan bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, melainkan untuk mengungkap cerita dibalik hidangan-hidangan legendaris yang tersembunyi di sudut-sudut Pasar Beringharjo.
Kegiatan ini diinisiasi sebagai bagian dari tugas mata kuliah Praktikum Bisnis Digital yang diampu oleh Ibu Fani Pramuditya, S.E., M.B.A., dengan pelaksana kegiatan yaitu Ainayah Nur Hafifah, Aisha Mustika Saputro, Aisyah Amanda Widyanti, dan Zhulfa Aida Shafira. Sebanyak 17 peserta bergabung dalam perjalanan ini, menyusuri lorong-lorong pasar dengan satu misi utama, yaitu memperkenalkan kembali kuliner lokal yang jarang diketahui (hidden gems) dan mendokumentasikan nilai sejarah serta cerita dibaliknya.
Dalam perjalanan ini, kami berhenti di beberapa titik kuliner seperti sate kere, mie nyemek, es dawet, dan berbagai kuliner tradisional lainnya. Eksplorasi ini tidak hanya berfokus pada cita rasa, tetapi juga pada kisah para pelaku usaha yang bertahan selama bertahun-tahun di tengah persaingan pada era digital ini. Melalui dokumentasi visual dan publikasi di media sosial, tim PASARASA berupaya menghadirkan pengalaman kuliner Pasar Beringharjo kepada audiens yang lebih luas, sekaligus membuka ruang apresiasi terhadap keberlanjutan usaha mikro yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Yogyakarta.
Pelaksanaan kegiatan PASARASA sejalan dengan agenda global pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mendukung pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan ekonomi lokal dengan memperkenalkan UMKM kuliner di Pasar Beringharjo melalui eksposur digital, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dengan mengangkat kembali kuliner tradisional yang jarang diketahui sehingga kegiatan ini turut berperan dalam pelestarian warisan budaya tak benda milik Yogyakarta, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku usaha mikro guna mendorong percepatan transformasi digital pada sektor ekonomi rakyat yang selama ini kurang tersentuh teknologi.
Melalui langkah kecil ini, tim PASARASA berharap masyarakat tidak lagi hanya mengenal Pasar Beringharjo sebagai tempat berbelanja pakaian, tetapi juga sebagai destinasi kuliner yang kaya akan nilai sejarah dan kemanusiaan. Selain itu, langkah kecil ini sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam menduniakan kuliner lokal. [Red. Aisha/Fani]
