Keberlanjutan ketahanan pangan Indonesia berkaitan erat dengan kemampuan sektor pertanian mempertahankan jumlah petani dari satu generasi ke generasi berikutnya. Isu ini dikaji oleh Kun Haribowo dan Mudrajad Kuncoro dari Universitas Gadjah Mada (UGM), serta Sigit Setiawan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui penelitian “Identifying the Pathway of Indonesia’s Food Security Industry for Sustainable Development”. Ketika petani yang meninggalkan sektor pertanian tidak diimbangi oleh masuknya petani baru, kapasitas sumber daya manusia yang menopang produksi pangan berisiko terus berkurang.
Penelitian “Identifying the Pathway of Indonesia’s Food Security Industry for Sustainable Development” menggunakan Agent-Based Modeling (ABM), atau pemodelan berbasis agen, untuk menyimulasikan dinamika sektor pertanian dalam jangka panjang. Dalam model ini, rumah tangga pertanian diperlakukan sebagai agen yang berinteraksi dengan faktor eksternal, termasuk ketersediaan lahan, harga pangan, pendapatan petani, perubahan demografi, kebijakan pemerintah, dan kondisi lingkungan.
Bahan penelitian menggambarkan tantangan regenerasi melalui komposisi umur petani. Kelompok usia 45–54 tahun berjumlah 7.819.063 orang atau 27,51%, kelompok usia 55–64 tahun sebanyak 6.726.846 orang atau 23,67%, dan kelompok usia 65 tahun ke atas sebanyak 4.739.843 orang atau 16,68%. Ketiga kelompok tersebut secara keseluruhan mencapai sekitar 67,86% dari jumlah petani yang disajikan. Sebaliknya, jumlah petani berusia di bawah 25 tahun hanya sekitar 0,84%.
Hasil simulasi Agent-Based Modeling (ABM) menggunakan model dinamika jumlah petani menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan bagi keberlanjutan sektor pertanian Indonesia. Dalam skenario yang disimulasikan, jumlah petani mengalami penurunan tajam dan mendekati tingkat yang sangat rendah pada dekade 2040-an. Proyeksi ini berkaitan dengan ketimpangan antara jumlah petani yang meninggalkan sektor pertanian dan jumlah petani baru yang masuk. Temuan tersebut menjadi peringatan bahwa tanpa perbaikan regenerasi dan kebijakan yang tepat, Indonesia berisiko menghadapi kekurangan sumber daya manusia di sektor pertanian yang dapat mengancam keberlanjutan ketahanan pangan. Proyeksi ini merupakan hasil simulasi berdasarkan asumsi model, bukan kepastian mengenai kondisi yang akan terjadi.
Implikasi kebijakan yang dikemukakan dalam penelitian adalah perlunya memperkuat kelayakan ekonomi usaha tani dan kondisi yang memungkinkan generasi muda memasuki sektor pertanian. Konsep Borderless Farming yang terintegrasi dengan Corporate Farming diusulkan sebagai salah satu pilihan untuk mengoordinasikan produksi, menyediakan layanan bersama, memperluas akses pasar, dan memperkuat posisi tawar petani. Dampaknya terhadap regenerasi petani masih perlu diuji melalui skenario dan evaluasi lebih lanjut.
Analisis Agent-Based Modeling (ABM) ini terutama berkaitan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan) karena keberlanjutan jumlah petani merupakan salah satu persoalan penting bagi ketahanan pangan. Artikel ini juga berkaitan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) karena menyoroti kelayakan ekonomi pekerjaan pertanian dan peluang bagi generasi muda untuk berusaha di sektor tersebut. [Red. Kun Haribowo]
