Pendahuluan
Uang sering dianggap sebagai ukuran utama kesejahteraan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tetap merasa bahagia walaupun belum merasa cukup secara finansial. Sebaliknya, ada pula yang merasa kondisi keuangannya baik, tetapi tidak merasa hidupnya bahagia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kepuasan finansial dan kebahagiaan merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak identik.
Sebuah riset lintas negara yang menganalisis data World Values Survey dari lebih dari 405 ribu responden di 112 negara (Inglehart et al., 2022) menguji apakah kedua dimensi kesejahteraan tersebut dipengaruhi oleh faktor yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata kebahagiaan responden cukup tinggi, yaitu 3,08 dari skala 4, sedangkan rata-rata kepuasan finansial berada pada tingkat sedang, yaitu 5,74 dari skala 10. Banyak orang ternyata dapat merasa bahagia meskipun kondisi keuangannya belum ideal.
Puas secara Finansial Belum Tentu Bahagia
Gagasan bahwa kekayaan tidak selalu sejalan dengan kebahagiaan sudah lama dibahas. Easterlin (1974) menemukan bahwa kenaikan pendapatan suatu bangsa tidak selalu diikuti peningkatan kebahagiaan penduduknya. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia cenderung mencari hal lain yang lebih bermakna, seperti rasa memiliki, hubungan sosial, dan tujuan hidup.
Riset tersebut menemukan pola serupa. Faktor yang berkaitan dengan uang, seperti tabungan dan pendapatan, lebih erat hubungannya dengan kepuasan finansial. Sementara itu, status menikah dan jumlah anak berkaitan dengan kebahagiaan, tetapi tidak dengan kepuasan finansial. Dengan kata lain, kehangatan relasi keluarga lebih banyak membentuk rasa bahagia dibandingkan kondisi keuangan semata.
Religiusitas yang Dijalani dan Dukungan Komunitas
Riset ini juga menemukan bahwa religiusitas yang dijalani, bukan sekadar diyakini, berkaitan positif dengan kepuasan finansial maupun kebahagiaan. Tiga aspek yang menunjukkan hubungan positif adalah rutin beribadah, menjadikan agama penting dalam hidup, dan aktif dalam komunitas keagamaan. Sebaliknya, keyakinan tanpa praktik dan keterlibatan tidak menunjukkan hubungan yang konsisten.
Ada dua penjelasan yang mungkin. Pertama, praktik keagamaan dapat melatih pengendalian diri dan mendorong gaya hidup yang tidak berlebihan (Minton, 2018). Kedua, komunitas keagamaan menyediakan jejaring pertemanan dan dukungan sosial. Lim dan Putnam (2010) menunjukkan bahwa manfaat agama bagi kepuasan hidup banyak bersumber dari pertemanan di dalam komunitas ibadah. Sebagai contoh, pertemuan rutin di masjid, gereja, pura, atau vihara sering menjadi ruang bagi warga untuk berbagi cerita, saling membantu, dan menghadapi kesulitan bersama.
Budaya Membentuk Cara Orang Memaknai Kesejahteraan
Dengan menggunakan dimensi budaya Hofstede (2001), riset tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara uang, makna, dan kesejahteraan berbeda antarmasyarakat. Masyarakat dengan budaya yang memberi ruang untuk menikmati hidup cenderung lebih puas secara finansial dan lebih bahagia. Masyarakat yang lebih individualis justru cenderung kurang puas terhadap kondisi keuangannya, kemungkinan karena tekanan untuk berhasil secara mandiri dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Di masyarakat yang lebih kolektivis, pentingnya agama dalam hidup memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kepuasan finansial dan kebahagiaan. Temuan ini relevan bagi Indonesia sebagai masyarakat dengan nilai kebersamaan yang kuat. Program peningkatan kesejahteraan dapat dirancang dengan memanfaatkan jejaring komunitas, termasuk komunitas keagamaan, secara inklusif dan terbuka bagi semua kelompok.
Kesimpulan
Kesejahteraan tidak cukup diukur dari kondisi keuangan saja. Uang memberi rasa aman, sedangkan makna hidup, relasi sosial, dan dukungan komunitas membuat rasa aman tersebut terasa sebagai kebahagiaan. Bagi pembuat kebijakan dan penyelenggara program kesejahteraan, implikasinya adalah perlunya pendekatan yang menggabungkan penguatan ekonomi dengan penguatan kesehatan mental dan jejaring sosial.
Program yang seragam berisiko kurang efektif di konteks budaya yang berbeda, sehingga desain program perlu peka terhadap nilai dan kebiasaan masyarakat setempat. Karena temuan ini bersifat asosiatif, penerapannya tetap perlu diuji melalui program dan evaluasi di tingkat lokal.
Sasaran SDGs: SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Target 3.4); SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan (Target 10.2)
Referensi
Easterlin, R. A. (1974). Does economic growth improve the human lot? Some empirical evidence. Dalam P. A. David & M. W. Reder (Eds.), Nations and Households in Economic Growth (hlm. 89–125). Academic Press. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-205050-3.50008-7
Hofstede, G. (2001). Culture’s consequences: Comparing values, behaviors, institutions and organizations across nations (2nd ed.). SAGE Publications.
Inglehart, R., Haerpfer, C., Moreno, A., Welzel, C., Kizilova, K., Diez-Medrano, J., Lagos, M., Norris, P., Ponarin, E., & Puranen, B. (Eds.). (2022). World Values Survey: Round Seven, Country-Pooled Datafile Version 6.0. JD Systems Institute dan WVSA Secretariat. https://doi.org/10.14281/18241.24
Lim, C., & Putnam, R. D. (2010). Religion, social networks, and life satisfaction. American Sociological Review, 75(6), 914–933. https://doi.org/10.1177/0003122410386686
Minton, E. A. (2018). Religiosity, monitoring and consumer self-control. International Journal of Consumer Studies, 42(6), 813–828. https://doi.org/
[Red. Leo Indra Wardhana]

