Jumlah desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta terus bertambah. Pada 2023, Bapperida DIY mencatat 148 desa wisata, bertambah 24 dari tahun sebelumnya. Namun, label desa wisata tidak otomatis mendatangkan pengunjung, apalagi kesejahteraan. Banyak desa memiliki hutan, mata air, dan tradisi yang menarik, tetapi belum memiliki lembaga pengelola dan rencana yang jelas. Kalurahan Banaran di Playen, Gunungkidul, adalah salah satu contohnya.
Potensi melimpah, pengelolaan sporadis
Banaran tidak kekurangan daya tarik. Di wilayahnya terdapat Hutan Pendidikan Wanagama, Museum Kayu Wanagama dengan koleksi kayu dan fosil kayu berusia ratusan tahun, Jembatan Gantung Wanagama di atas Sungai Oya, dan Air Terjun Sendang Ayu. Ada pula Sendang Mojosari, mata air bersejarah yang menjadi lokasi tradisi nyadran atau bersih desa, serta Taman Desa Banaran yang meraih penghargaan Taman Anugerah Anak Jogja pada 2022.
Masalahnya terletak pada pengelolaan. Pemetaan dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dana Masyarakat Sekolah Vokasi UGM 2026 menemukan bahwa kegiatan wisata di Banaran masih sporadis, keterlibatan warga rendah, penunjuk arah dan peta objek wisata belum tersedia, dan informasi wisata belum tersampaikan secara luas. Tanpa peta potensi dan rencana, pemerintah kalurahan tidak memiliki dasar untuk memilih strategi yang tepat sasaran.
Peta jalan tiga tahap
Untuk menjawab persoalan tersebut, program PkM yang disusun bersama Amesta Kartika Ramadhani, Mukhlis Ginting, Mudrajad Kuncoro, dan Mutiarra Ridyo Arum merumuskan peta jalan pengembangan Desa Wisata Agro-Edukasi Banaran 2026–2028. Peta jalan ini dibangun dari data sekunder, diskusi kelompok terarah, dan konfirmasi bersama pemerintah kalurahan sebelum diserahkan secara resmi.
Peta jalan dibagi ke dalam tiga tahap. Tahun 2026 berfokus pada pembentukan Pokdarwis, analisis potensi dan permasalahan, serta penentuan fokus pengembangan. Tahun 2027 diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia, khususnya peternak madu, dan produk UMKM khas desa. Tahun 2028 ditujukan untuk menetapkan objek wisata utama dan membangun citra Banaran sebagai desa wisata agro-edukasi.
Urutan ini disengaja. Lembaga dibentuk lebih dahulu karena tanpa pengelola, pelatihan dan promosi tidak memiliki pemilik. Peta jalan tersebut diturunkan menjadi delapan program, mulai dari penguatan kelembagaan, infrastruktur dan aksesibilitas, pemasaran, UMKM lokal, paket wisata alam dan edukasi, pelestarian budaya dan ruang publik, agrowisata alternatif, hingga kemitraan dan pembiayaan.
Kemitraan sebagai penopang
Salah satu pelajaran penting dari Banaran adalah bahwa desa tidak dapat bergerak sendirian di masa awal. Peta jalan secara eksplisit merekomendasikan kerja sama pendanaan dengan pihak ketiga, seperti BUMDes, UGM, dan sektor swasta. Kedekatan Banaran dengan Wanagama, yang dikelola Fakultas Kehutanan UGM, menjadi modal kemitraan yang jarang dimiliki desa lain. Hutan pendidikan, museum, dan fasilitas konservasi yang sudah ada dapat menjadi kelas terbuka bagi pelajar dan wisatawan, asalkan dikemas dalam paket yang dikelola bersama warga.
Dari dokumen ke gerakan
Peta jalan baru bermakna jika dijalankan. Karena itu, langkah pertama yang paling mendesak adalah membentuk Pokdarwis yang memiliki dasar hukum dan melibatkan warga, terutama peternak lebah dan pelaku UMKM yang selama ini sudah bergerak secara mandiri. Pengalaman Banaran sejalan dengan SDG 17 tentang kemitraan multipihak (target 17.17), SDG 11 tentang pelestarian warisan budaya dan ruang publik yang inklusif (target 11.4 dan 11.7), serta SDG 4 tentang pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan melalui wisata edukasi (target 4.7). [Red. Latri Wihastuti]
