Yogyakarta – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) memetakan madu hutan Wanagama sebagai penggerak utama wisata agro-edukasi di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul. Pemetaan ini menjadi dasar peta jalan pengembangan wisata desa periode 2026–2028 yang diserahkan kepada Pemerintah Kalurahan Banaran.
Program yang didanai Dana Masyarakat SV UGM 2026 ini diketuai Latri Wihastuti, dosen Pembangunan Ekonomi Kewilayahan, Departemen Ekonomika dan Bisnis SV UGM. Anggota timnya adalah Amesta Kartika Ramadhani, Mukhlis Ginting, Prof. Mudrajad Kuncoro, dan Mutiarra Ridyo Arum. Tim mengumpulkan data sekunder dan menggelar diskusi kelompok terarah bersama perangkat kalurahan dan warga.
Hasil pemetaan menunjukkan Banaran memiliki modal alam yang kuat. Wilayah utara kalurahan seluas 751,11 hektare itu berbatasan langsung dengan Hutan Pendidikan Wanagama seluas 622,25 hektare yang dikelola Fakultas Kehutanan UGM. Peternak lebah setempat membudidayakan lebah lokal Apis cerana yang menghisap nektar pohon randu dan kaliandra di kawasan hutan.
Menurut tim, potensi tersebut belum banyak menjadi penghasilan warga. Data kependudukan mencatat 14,87% warga Banaran belum atau tidak bekerja. Wisata edukasi madu yang sudah ada juga masih dikelola sendiri oleh peternak, tanpa paket wisata maupun promosi terencana.
Peta jalan yang disusun menempatkan madu sebagai fokus. Tiga dari empat fokus pengembangan berkaitan langsung dengan madu, yaitu kawasan agro-edukasi madu, wisata edukasi budidaya lebah hutan Wanagama, dan pemberdayaan UMKM madu. Pada 2027, program diarahkan pada peningkatan kapasitas peternak madu serta pembuatan produk turunan madu sebagai cendera mata khas desa.
Tim juga merancang rute wisata yang melewati peternakan lebah, peternakan domba, usaha makanan warga, Sendang Mojosari, Air Terjun Sendang Ayu, Jembatan Gantung Wanagama, hingga Museum Kayu Wanagama.
Karena mutu madu bergantung pada vegetasi hutan, pengembangan wisata ini sekaligus memberi alasan ekonomi bagi warga untuk menjaga Wanagama. Pendekatan tersebut mendukung SDG 8 tentang pariwisata berkelanjutan dan pertumbuhan usaha mikro (target 8.9 dan 8.3) serta SDG 15 tentang pelestarian ekosistem hutan (target 15.1). [Red. Latri Wihastuti]
