Prof. Mudrajad Kuncoro kembali mengukuhkan jejak rekam keilmuannya di kancah akademik. Berdasarkan data terkini AD Scientific Index per 1 Agustus 2026, guru besar Prodi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan SV UGM ini menduduki peringkat ke-2 dalam daftar Top 100 Scientists Indonesia berdasarkan jumlah sitasi (citation). Pencapaian gemilang ini tidak hanya mengukuhkan kapasitas personalnya, tetapi juga menjadi barometer penting bagi kualitas riset di Indonesia.
Peringkat yang dikeluarkan oleh AD Scientific Index (Alper-Doger Scientific Index) memiliki bobot kredibilitas yang tinggi karena sistem metriknya yang objektif. Dalam menilai produktivitas peneliti Indonesia, AD Index tidak hanya menghitung seberapa banyak karya yang dihasilkan, tetapi menitikberatkan pada “dampak” dan “nilai guna” dari karya tersebut. Indeks AD menggunakan tiga metrik utama berbasis Google Scholar untuk mengukur rekam jejak seorang ilmuwan, yakni: Pertama, Total Citations (Jumlah Sitasi) yang menunjukkan akumulasi seberapa sering seluruh karya ilmiahnya dikutip sebagai rujukan untuk melihat luasnya pengaruh sang peneliti. Kedua, h-index yang menyeimbangkan antara tingkat produktivitas dan besarnya dampak suatu karya (seorang ilmuwan memiliki nilai h jika h karyanya masing-masing telah disitasi minimal h kali). Ketiga, i10-index yang secara spesifik menghitung jumlah publikasi yang berhasil dikutip setidaknya 10 kali untuk mengukur konsistensi karya yang mendapatkan sorotan akademik secara signifikan. AD Indeks ini mengukur total sitasi, h-index, dan i10-index seorang ilmuwan, baik secara kumulatif sepanjang karier maupun dalam enam tahun terakhir. Artinya, peringkat ini menunjukkan bahwa karya ilmiah peneliti tersebut benar-benar dibaca, diakui, dan dijadikan rujukan utama oleh komunitas akademik global maupun domestik, bukan sekadar publikasi yang berakhir di rak perpustakaan.
Total Citations Mudrajad yang sebesar 35.604 menunjukkan bahwa seluruh publikasi ilmiah rektor Universitas Trilogi 2019-2022 ini telah dikutip sebanyak 35.604 kali oleh publikasi ilmiah lain. Angka ini merupakan indikator penting pengaruh akademik (scientific impact), yang mencerminkan bahwa hasil penelitian, buku, dan artikel yang dihasilkan telah menjadi rujukan luas bagi komunitas ilmiah. Bersama dengan indikator lain H-index dan i10-index, capaian lebih dari 35 ribu sitasi menempatkan Mudrajad sebagai salah satu ilmuwan dengan pengaruh akademik yang sangat tinggi. Dari 3.725 ilmuwawan di UGM, Mudrajad menempati peringkat ke-3 berdasarkan Total Citations. Dari 2.637.770 ilmuwan dunia, ia termasuk dalam 0,08% top scientists. Tidak berlebihan, ia kini merupakan salah satu ilmuwan atau ekonom paling berpengaruh di Indonesia.
Posisi runner-up nasional yang diraih Mudrajad Kuncoro merupakan buah dari konsistensi dan produktifitas luar biasa dalam dunia literasi dan penelitian. Penyandang gelar doktor dari University of Melbourne dan Master of Social Science dari University of Birmingham ini menulis 76 buku. Ia menulis buku sejak tahun 1988, di kala masih kuliah S1 di Fakultas Ekonomi UGM. Buku karyanya yang kini banyak menjadi literatur wajib di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta Indonesia antara lain: Metode Riset, Metode Kuantitatif, Ekonomika Pembangunan, Ekonomika Indonesia, Ekonomi Industri, Perencanaan Pembangunan Daerah, Otonomi Daerah, Manajemen Perbankan, SAKIP. Selain itu, daya kritisnya tertuang dalam lebih dari 200 artikel ilmiah yang menembus jurnal internasional bereputasi tinggi (terindeks Scopus Q1-Q2) serta jurnal nasional terakreditasi tingkat atas (SINTA1-2). Ia juga kolumnis di Kompas, Jakarta Post, Bisnis Indonesia, Infobank, Investor Daily, Gatra, Kedaulatan Rakyat.
Bagi Mudrajad, angka sitasi bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari konsistensi menghasilkan karya yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat. Saat menerima penghargaan Lifetime Achievement in Economic Teaching & Leadership Award pada International Innovative Futuristic Conference 9 November tahun 2025, ia menegaskan, “In the end, what truly matters is not what we produce, but whom we uplift. Knowledge, to me, is meaningful only when it touches lives and transforms communities.” Filosofi tersebut tercermin dalam fokus penelitiannya mengenai ketimpangan, kemiskinan, konsentrasi geografis, serta pemberdayaan Usaha Kecil dan Mikro (UKM). Melalui buku, artikel ilmiah, tulisan populer di media massa, dan pembimbingan mahasiswa, ia memandang menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi sebuah bentuk pengabdian. Karena itu, pesan yang selalu ia sampaikan kepada para mahasiswa dan dosen adalah, “Do not chase prestige—pursue purpose. Do not measure success by what you earn, but by what you enable others to become.” Kalimat tersebut merangkum keyakinannya bahwa keberhasilan seorang akademisi tidak diukur dari banyaknya penghargaan atau sitasi yang diraih, melainkan dari sejauh mana ilmu pengetahuan mampu memberdayakan manusia dan membawa perubahan nyata dan dampak positif bagi masyarakat. [Red. Mudrajad]

